SELAMAT DATANG DI NOTE UNTUK KAMU

SELAMAT DATANG DI NOTE UNTUK KAMU

Blogger ini muncul berdasarkan dari beberapa permintaan saudara-saudariku semua..

Alhamdulillah akhirnya tercapai juga dan selesai sudah blogger ini dibuat...

Namun kesempurnaan blogger ini belumlah maximal.

Semoga dihari..hari mendatang dapat disempurnakan blogger ini

Dan blogger ini tercipta dan ada... karena... diri saudara-saudariku semua..

Dan...tiada artinya blogger"NOTE UNTUK KAMU" ini.. jika saudara-saudariku tidak berada didalamnya....

Salam Ukhwah..........

May 3, 2014

PERBUATANNYA YANG DIBENCI DAN JANGAN ORANGNYA

Mari kita belajar dari 3 orang sahabat Rasulullah: Abu Darda, Ibnu Masud, dan Abu Dujanah al-Anshariradhiyallahu anhumMereka termasuk sahabat-sahabat Rasulullah yang senior.
Suatu hari, Abu Darda berjalan bersama para sahabatnya. Di tengah jalan, ia melihat seorang pendosa. Para sahabatnya yang lain mencaci orang itu.
Lalu Abu Darda berkata, ‘Bagaimana menurut kalian jika kalian menemukan dosa itu pada hati kalian, apakah kalian akan mengeluarkannya?’
Mereka menjawab, ‘Tentu saja’
Abu Darda berkata, ‘Makanya, janganlah kalian mencaci saudara kalian. Sebaiknya pujilah Allah karena Dia-lah yang telah menyelamatkan kalian dari dosa’.
Mereka bertanya, ‘Apakah engkau tidak membenci orang itu?’
Abu Darda menjawab, ‘Innama ubghidhu amalahu, fa idza tarokahu fa huwa akhi -sesungguhnya yang aku benci adalah perbuatannya. Jika ia sudah meninggalkan perbuatannya, maka ia tetap saudaraku’.
Lain lagi dengan Ibnu Masud. Ia pernah berkata, ‘Jika kalian melihat seseorang melakukan perbuatan dosa, maka janganlah kalian ikut-ikutan menjadi backingsyetan terhadap orang itu, dengan mengatakan, ‘Ya Allah, balaslah perbuatannya...Ya Allah, laknatlah ia. ".
Namun, mohonlah kepada Allah agar kalian mendapatkan 
afiat (keselamatan dari dosa).
Sesungguhnya kita ini, para sahabat Nabi, tidak akan mengatakan sesuatu terhadap seseorang sampai kita tahu tanda kematiannya.
Jika akhir hidup orang itu ditutup dengan kebaikan, maka tahulah kita bahwa ia sudah mendapat kebaikan.
Jika hidup orang itu berakhir dengan keburukan, maka kita menjadi takut mendapat yang seperti itu.
Begitulah sikap mulia Abu Darda dan Ibnu Masud dalam menyikapi pelaku dosa. Padahal kalau dilihat dari persfektif kesucian pribadi mereka, tentu saja keduanya lebih pantas untuk mencaci para pelaku dosa.

Sebagaimana kita ketahui, Abu Darda adalah sahabat Rasulullah yang terkenal dengan figur yang rajin ibadah.

Begitu pula dengan Ibnu Masud, yang punya suara indah, yang membuat Rasulullah menangis ketika mendengar Ibnu Masud membaca al-Quran di hadapannya.

Bukan hanya itu, meskipun Ibnu Masud punya betis yang kecil, namun jika nanti ditimbang pada hari Kiamat, maka berat betisnya yang kecil itu akan melebihi beratnya Bukit Uhud.

Ini menjadi tanda bahwa pemilik betis itu adalah orang mulia.
Lain lagi dengan orang yang bernama Abu Dujanah. Suatu hari ia sakit. Para sahabat yang lain datang menjenguknya.
Yang mengherankan, meskipun wajahnya pucat akibat sakit yang dideritanya, wajah Abu Dujanah tetap memancarkan cahaya.
Para sahabat bertanya, ‘Ma li wajhika yatahallalu? – Apa yang membuat wajahmu senantiasa bercahaya?’
Abu Dujanah menjawab, ‘Ada dua amal yang selalu aku pegang teguh dalam hidup ini. Pertama, aku tidak pernah berbicara dengan sesuatu yang kurang bermanfaat. Kedua, hatiku  selalu menilai sesama Muslim dengan hati yang tulus’.
Abu Darda, Ibnu Masud, dan Abu Dujanah menjalani hidup sesuai hati mereka, bukan sesuka hati mereka. 
Tentu saja, ada beda antara hidup SESUAI hati dengan hidup SESUKA hati.
Setiap hati akan bercerai-berai, kecuali hati yang saling mencinta atas dasar kecintaan kepada Allah, dan surga adalah tempat yang paling pantas untuk bersatunya hati seperti ini…

Mar 26, 2014

ORANG MURTAD DAN AZABNYA


Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.
Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya (QS Al-Baqarah [2]: 217).

Aqidah merupakan perkara amat penting. 

Status seseorang, menjadi mukmin atau kafir, ditentukan oleh aqidah yang diyakininya.
Sementara status tersebut memberikan implikasi amat besar bagi pelakunya, di dunia maupun di akhirat.
Nasibnya amat kontras satu sama lain.
Jika orang mukmin bisa berharap atas amal kebaikan yang dikerjakannya selama di dunia, tidak demikian dengan orang kafir.
Semua amalnya dipastikan terhapus dan sia-sia.
Bagi orang yang beriman dan beramal shaleh disediakan surga yang penuh kenikmatan, sedangkan orang kafir dijadikan sebagai penghuni kekal di neraka.

Mereka Berusaha Memurtadkan 

Allah Subhanaahu Wa Ta'ala berfirman: wa lâ yazâlûna yuqâtilûnakum (mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu). 
Ayat ini diawali dengan penjelasan mengenai kedudukan perang di bulan haram.
Dijelaskan bahwa berperang di bulan tersebut memang tidak diperbolehkan (catatan: ketentuan ini akhirnya dinasakh dengan perintah memerangi kaum kafir secara mutlak). 
Akan tetapi, menghalangi manusia dari jalan Allah dan kafir kepada-Nya, mencegah manusia masuk ke Masjid al-Haram, dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, dosanya jauh lebih besar. 
Penjelasan ini menjadi pukulan telak bagi kaum Musyrik yang sebelumnya melem-parkan opini buruk tentang umat Islam. 
Jika mereka mencela umat Islam karena menumpahkan darah di bulan haram, maka apa yang mereka lakukan jauh lebih berat dosanya. 
Sehingga merekalah yang sesungguhnya layak dicela.
Kemudian ayat ini memberitakan permusuhan abadi kaum terhadap kaum Muslim. 
Permusuhan itu sebagaimana dijelaskan dalam frase sebelumnya itu  dilatari oleh persoalan aqidah. 
Mereka tidak menginginkan manusia memeluk agama-Nya. 
Karena itu yang menjadi pangkal penyebabnya, mereka akan terus menerus memerangi umat Islam hingga murtad dari agama-Nya. 

Allah Subhanaahu Wa Ta'ala berfirman: hattâ yaruddûkum 'an dînikum in [i]stathâ'û (sampai mereka [dapat] mengembalikan kamu dari agamamu [kepada kekafiran], seandainya mereka sanggup).
Kata hattâ mengandung mafhûm ghâyah, batas akhir. Itu artinya, mereka baru berhenti memerangi umat Islam tatkala telah murtad dari agamanya. 
Sedangan kata in [i]stathâ'û memberikan pengertian bahwa mereka tidak akan mampu melakukannya walaupun telah mengerahkan seluruh kemampuan mereka.

Sebagaimana dituturkan Abdur-rahman al-Sa'di, sifat demikian berlaku umum bagi setiap kaum kafir. 

Dalam QS al-Anfal [8]: 36 disebutkan bahwa orang-orang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi manusia dari jalan Allah. Kaum Yahudi dan Nasrani diberitakan juga tidak akan ridha selama umat Islam belum mengikuti agama mereka (QS al-Baqarah [2]: 120). 

Oleh karena itu, apabila mereka dituruti akan mengantarkan kepada kekufuran. Allah Subhanaahu Wa Ta'ala  berfirman: Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran (QS al-Baqarah [2]: 109).

Terhapus Amalnya
Setelah memberitakan kejahatan kaum musyrik yang berusaha keras melakukan pemurtadan, Allah Subhanaahu Wa Ta'ala juga mengingatkan kaum Muslim agar jangan sekali-kali mengikuti keinginan mereka. 

Ancaman terhadap pelaku murtad sangat berat. 

Allah Subhanaahu Wa Ta'ala  berfirman: Wa man yartadid minkum 'an dînihi fayamut wahuwa kâfir[un] (barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran).

Seruan ayat ini ditujukan kepada kaum Muslim. 

Sehingga, kata dînihi (agamanya) di sini merujuk kepada Islam. 

Artinya, mereka telah keluar dari Islam menjadi kafir. Sebagai konsekuensinya, semua yang berkait dengan status kafir juga melekat padanya. Termasuk dengan semua amal yang dikerjakan. 

Allah Subhanaahu Wa Ta'ala  berfirman: faulâika habithat a'mâluhum fî al-dunyâ wa al-âkhirah (maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat).

Menurut al-Syaukani, kata habitha berarti bathala (batal, sia-sia). 

Sementara a'mâluhum di sini merujuk kepada semua amal kebaikan yang telah dilakukan selama masih menjadi Muslim. 

Syarat diterimanya amal adalah Muslim (lihat QS Ali Imran [3]: 85). 

Maka ketika murtad, semua amal pelakunya menjadi tertolak. 

Tak hanya itu, seluruh amal yang sudah dikerjakan semasa memeluk Islam pun turut terhapus. 

Makna terhapus amalnya di dunia, menurut al-Khazin dan al-Naisaburi, bahwa orang murtad itu dibunuh, dipisahkan dari pasangannya, tidak berhak atas waris dari kerabatnya yang Muslim, tidak berhak ditolong ketika meminta tolong, tidak boleh mendapatkan pujian, dan hartanya dijadi-kan sebagai fay' bagi kaum Muslim. 

Sedangkan terhapus amalnya di akhirat berarti dia tidak memperoleh pahala sedikit pun atas amal kebaikan yang telah dikerjakan.

Selain ayat ini, ketentuan ini disebutkan dalam banyak ayat, seperti firman Allah Subhanaahu Wa Ta'ala : Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi (TQS al-Maidah [5]: 5).

Penegasan serupa juga disampaikan dalam beberapa ayat lainnya, seperti QS al-A'raf [7]: 147, Muhammad [47]: 2, al-Taubah [9]: 17 dan 69..

Kekal di Neraka

Di samping seluruh amalnya terhapus, pelaku murtad juga akan ditimpa dengan azab yang amat dahsyat, yakni neraka selama-lamanya. 

Allah Subhanaahu Wa Ta'ala  berfirman: Wa ulâika ashhâb al-nâr hum fîhâ khâlidûn (dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya). 

Selain ayat ini, banyak ayat yang memberitakannya, seperti firman Allah Subhanaahu Wa Ta'ala : 
Mereka itu, balasannya ialah: bahwasanya laknat Allah ditimpakan kepada mereka, (demikian pula) laknat para malaikat dan manusia seluruhnya, mereka kekal di dalamnya, tidak diringankan siksa dari mereka, dan tidak (pula) mereka diberi tangguh (QS Ali Imran [3]: 87-88).

Frasa wahuha kâfir (dalam keadaan kafir) menghasilkan taqyîd (pembatasan). 

Bahwa ketentuan itu berlaku tatkala pelakunya mati dalam keadaan kafir. 

Apabila mereka sempat bertaubat sebelum mati, maka tidak tercakup dalam ketentuan ayat ini. 

Sebagaimana disebutkan dalam QS Ali Imran [3]: 90, ancaman siksa yang amat dahsyat bagi orang yang murtad itu dikecualikan bagi orang-orang yang bertobat dan mengadakan perbaikan.

Jelaslah aqidah merupakan perkara yang amat penting. Iman merupakan kenikmatan paling besar yag harus dijaga, dipelihara, dan dipupuk. 

Sebab, iman menjadi bekal utama untuk mendapatkan kenikmatan yang jauh lebih besar, yang pernah dirasakan selama di dunia, surga dan ridha-Nya. 

Sebaliknya, lepasnya iman menjadi sebab bagi lenyapnya semua kenikmatan. 

Bahkan menyebabkan pelakunya ditimpa dengan azab yang maha dahsyat dan tiada tepi. Na'ûdzu bil-Lâh min dzâlika. 

Bertolak dari paparan di atas, jangan sampai kita melepaskan aqidah dengan hanya untuk mendapatkan harta, jabatan, atau pasangan. 

Semua itu tidak ada artinya jika dibandingkan dengan kenikmatan surga yang tiada tara dan siksa neraka yang maha dahsyat. 

Wal-Laâh a'lam bi al-shawâb.

Mar 5, 2014

MENGALIRNYA TERUS MENERUS DOSA D0SA MANUSIA SAMPAI LIANG LAHAT

Sebelumnya pembahasan ini telah diuraikan oleh M Lili Nur Aulia di Majalah Tarbawi edisi 277 bab Nasihat Nurani, semoga menjadi ladang pahala bagi Bapak dan insya Allah saya di sini akan lebih menjelaskan tentang karakteristik dosa yang terus mengalir tersebut.

Alangkah baiknya pula ilmu yang bermanfaat ini, kita sampaikan kembali sehingga ganjaran yang didapat pun bisa berlipat ganda bahkan mengalir walaupun kita sudah masuk liang lahat.

Semoga Allah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Aamiin.

==============


Kita mungkin sudah sering mendengar tentang amalan yang pahalanya tidak akan terputus sekalipun ruh yang telah memasuki alam barzakh.

Tapi coba kita renungkan kembali, apa yang tersirat di pikiran kita kalau pahala yang terus mengalir itu dibarengi dengan dosa yang terus mengalir pula, ataupun dosa yang berlipat ganda namun pahala yang didapat sama sekali tidak ada.

Sungguh ini merupakan peringatan besar buat kita semua untuk kembali bermuhasabah diri dan merenungkan kembali semua amalan yang telah kita persembahkan kepada Allah Subhanaahu Wa Ta'ala.

Yang menjadi sebuah pertanyaan besar di benak kita adalah “apakah ada dosa yang bisa mengalir sampai liang lahat...?

Dosa apakah itu...?”.

Coba kita sama-sama pahami firman Allah dalam surat Yaasin ayat 12 ini
إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ
“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.
Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh)”.

Allah mengisyaratkan dalam kata وَآثَارَهُمْ yang berarti “bekas-bekas yang mereka tinggalkan”.

Apa maksud dari “bekas bekas yang mereka tinggalkan...?”.

Para ulama telah sepakat bahwa seorang manusia yang meninggal dunia akan termasuk dalam 2 kategori sebagai berikut:
  1. Kategori seseorang yang meninggal dunia, kemudian terputus semua amal kebaikan dan keburukannya.
    Dalam hal ini berarti hanya amal dan perbuatan di dunia yang akan menentukan dirinya apakah masuk surga atau neraka, apakah nikmat kubur ataukah siksa kubur yang ia dapatkan.
  2. Kategori seseorang yang meninggal dunia, tetapi masih tetap mengalir pahala ataupun dosa.
    Dalam hal ini seseorang bisa mengalami salah satu dari beberapa kategori berikut:
    • Pahala yang terus mengalir, mungkin sudah sering kita dengar tentang 3 amalan yang pahalanya terus mengalir walaupun seorang hamba tersebut sudah masuk alam kubur yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shalih/ah yang senantiasa mendoakan orang tuanya.
    • Pahala dan dosa yang terus mengalir, kategori ini akan bergantung pada timbangan amal baik dan buruknya, lebih berat mana antara dosa dan pahalanya.
    • Dosa yang terus mengalir, kategori inilah yang akan kita bahas sebagaimana dalam surat yaasin tadi bahwa ada bekas yang ditinggalkan dari dosa-dosa tersebut.
Allah Subhanaahu Wa Ta'ala pernah menjelaskan dalam surah An-Nahl ayat 25 yang artinya “menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun. Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu”

Rasulullah Subhanaahu Wa Ta'ala pernah bersabda “Barang siapa yang melakukan tradisi buruk dalam Islam maka atasnya balasannya dan balasan orang yang melakukan keburukan itu tanpa mengurangi sedikit pun balasan keburukan atas mereka” (HR Muslim).

Imam Abu Hamid pernah berkata pula dalam kitab Ihya Ulumuddin, “Beruntunglah orang-orang yang apabila ia mati, mati bersama dosa-dosanya.

Maka kesengsaraan panjanglah bagi orang yang mati tapi dosa-dosanya tidak mati selama ratusan tahun atau lebih lama dari itu yang membuatnya tersiksa dalam kuburnya” (Ihya Ulumuddin 2/73).

Dari ketiga uraian tersebut sudah dapat kita simpulkan bahwa dosa itu dapat mengalir sebagaimana pahala sampai kita memasuki liang lahat.

Tapi dosa apa yang membuat seseorang itu tersiksa dalam kuburnya..?

Coba kita pahami kembali hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dari uraian di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa dosa yang dimaksud adalah membuat tradisi buruk dalam Islam atau yang lebih tepatnya lagi yaitu bid’ah.

Namun tentunya bid’ah yang dimaksud adalah bid’ah yang keluar dari syariat Islam. Lain halnya dengan bid’ah hasanah.

Membuat tradisi buruk dalam Islam ini bukan hanya bid’ah tapi ajaran yang menyimpang dari syariat Islam pun bisa termasuk dalam kategori yang disebutkan oleh Rasulullah sebagai tradisi yang buruk.

Ajaran masih bersifat umum, kalau kita melirik dari sifat khususnya ajaran ini bisa dikatakan sebagai ilmu, pelajaran, tulisan, ide, teori, pemikiran, hukum dan masih banyak lagi yang intinya ajaran itu bisa diamalkan oleh orang lain.

Bilamana tradisi yang kita sampaikan itu baik atau sesuai dengan syariat Islam maka yang akan kita dapatkan adalah pahala yang tiada putu-putusnya dan apabila tradisi yang kita ajarkan ataupun yang kita sebarkan itu buruk atau menyimpang dari syariat Islam maka dosalah yang akan kita pikul.

Bukan dosa kita saja yang akan kita dapatkan tapi dosa seluruh manusia yang mengamalkan dan mengikuti tradisi buruk yang kita sampaikan, na’udzubillahi mindzalik.

Maka dalam forum ini saya ingin mengingatkan kepada seluruh kaum muslimin wabilkhusus kepada para muballigh, para da’i, para guru, orang tua, para penulis, para motivator dan umumnya kepada seluruh umat

Islam di seluruh penjuru dunia untuk kembali bermuhasabah diri, merenungkan kembali ilmu, teori, tulisan, ide, pemikiran dan sebagainya yang pernah kita sampaikan kepada anak didik kita kepada murid-murid kita, boleh jadi ajaran yang kita sampaikan adalah sesuatu yang menyimpang dari syariat Islam.

Boleh jadi buku-buku hasil olah pikir kita adalah bid’ah yang jelas-jelas sebagai tradisi buruk dalam Islam.

Boleh jadi postingan yang kita kirim ke sebuah situs adalah sebuah pemikiran yang justru jauh dari ajaran Islam.

Maka dari itu marilah kita sama-sama saling mengingatkan saling mengoreksi diri, alangkah lebih baiknya sebelum kita mengajarkan ilmu sebelum kita menulis untuk penerbitan buku ataupun yang lainnya, kita cek kembali seluruh ilmu kita, kalaupun itu hadits kita cek sanadnya ataupun seorang motivator periksa kembali teori yang kita sampaikan.

Dan kalaupun itu sudah terlanjur kita sampaikan maka segeralah bertaubat dengan taubat yang sebaik-baiknya sebagaimana Allah Subhanaahu Wa Ta'ala berfirman dalam surat at Tahrim ayat 8
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ يَوْمَ لا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).

Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Dalam ayat ini menjelaskan bahwa Allah akan menutupi semua kesalahan (dosa) jikalau hambanya tersebut mau bertaubat dengan taubat yang semurni-murninya (taubatannasuuha).

Maka sangat jelaslah bahwa maksud Allah dari وَآثَارَهُمْ ini adalah ajaran atau tradisi yang buruk dalam Islam yang pernah kita sampaikan yang membuat dosa itu terus mengalir.

Maka dari itu mari kita sama-sama bertaubat karena kita yakin bahwa Allah maha pengampun dan maha pemaaf kepada hamba-hambanya yang selalu memohon dan meminta ampunan dari kasih sayang dari-Nya.

Teruslah bermuhasabah agar ilmu yang kita sampaikan adalah ladang pahala yang tiada putus-putusnya bukan dosa yang terus mengalir.

Wallahu a’lam bisshawab.

Mar 4, 2014

SUAMI PUNYA WANITA IDAMAN LAIN

” Jangan tanyakan soal kesetiaan pada laki laki , yang penting tanggung jawab.” demikian kata kata dari wall seorang pria yang kariernya makin meningkat.

Kata kata itu tak mungkin diucapkan ketika dia baru saja merintis karier.

Mengapa ketika hidup mulai meningkat, suami suka mencari  wanita lain...?

Ada yang sekedar  fun , ada juga yang serius dijadikan wanita idaman lain. 

Dia lupa pada istri yang setia mendampingi dikala suka dan duka.

Pada umumnya lelaki yang punya WIL  sangat  pandai membohongi istri, jika di tanya pasti  tak akan mengaku  kecuali kita mendapat bukti. 

 Jangan pula kita marah dan curiga terus  pada suami.

Lebih baik doakan dia selamat pulang dan pergi , serahkan semua pada Allah Yang Maha Tahu, pasti lama lama kebohongan itu akan terungkap. In Shaa Allah.

Istri mana yang tak sakit hati jika mendapatkan bukti bahwa suami memilik wanita lain, entah di nikahi atau sekedar simpanan.  

Banyak cara  wanita mengungkapkan ketika  hatinya terluka, ada yang menangis, ada yang marah marah, terkadang anak anak menjadi sasaran.

Seorang sahabat saya sebut saja Mey yang sudah 25 tahun mendampingi suaminya Rudy
(samaran), mereka memilik 2 anak laki laki dan perempuan. 
Ketika baru menikah kehidupan mereka sangat susah, Mey harus membantu Rudy dengan bekerja di perusahaan  asuransi. .
Di tahun ke 23 pernikahan mereka,   kehidupan Rudy mulai berubah.
Bisnis  export importnya berkembang pesat.
Mey tak lagi bekerja, waktunya di isi dengan kegiatan keagamaan sambil mendamping anak anaknya yang sudah kuliah. 
Kadang dia   ke kantor suaminya jika sedang ada acara.
Ada gossip berhembus bahwa Rudy punya hubungan special dengan sekretarisnya,, sebut saja Ella (30 th )  tapi Mey tak percaya begitu saja.
Dalam pikirannya mana mungkin Ella yang sangat dikenalnya tega mengkhianatinya, tapi sebagai wanita, dia tetap waspada.
Suatu hari Mey mendapatkan bukti bahwa apa di dengarnya ternyata benar. 
Baru saja suaminya pulang kerja, Mey langsung membeberkan bukti bukti itu dan akhirnya Rudy mengaku. 
Sayang Mey terlalu emosi, dia ajak Rudy ke rumah Ella.
Di hadapan orang tua Ella, adik adik dan kakaknya, Mey memaki dan menghina  Ella dengan kata kata yang sangat kotor.  Ella menangis tapi Mey semakin emosi lalu di hadapan keluarga Ella, dia berkata pada suaminya.
” Pecat perempuan bejat ini sekarang juga...!!, ayo katakan sekarang bahwa kamu tak akan berurusan lagi dengan perempuan jalang pengganggu suami orang...!! “
Mungkin saat itu Rudy tak punya pilihan, dari pada malu di depan keluarga Ella lebih baik mengalah pada istrinya.
Namun apa yang terjadi selanjutnya...? 
Kemarahan Mey membuat Rudy kehilangan harga diri dan merasa  kasian pada Ella.
Akhirnya mereka menikah sedang  Mey  minta cerai dan kini hidup seorang diri di Amerika.

 Menurut pendapat saya, jika suami memiliki wanita lain, tak perlu kita tahu siapa wanita itu, apalagi sampai mendatangi dan memaki maki, tentu akan membuat mereka makin nempel saja.

Suami bukan barang yang bisa diperebutkan dan kita  sebagai istri wajib koreksi diri.

Lebih baik komunikasi dari hati ke hati ,  tanyakan pada suami , mengapa dia tega berbuat begitu..?

Apa salah kita sebagai istri...?

Apakah dia masih ingin mempertahankan pernikahan ini..?

Selanjutnya terserah kita, karena banyak juga wanita yang langsung minta cerai tanpa memberi kesempatan pada suami memperbaiki diri.

Banyak laki laki yang hanya tergoda sesaat kemudian menyadari perbuatannya , maka alangkah baiknya jika istri memaaafkan walau tak mudah melupakan. Jangan pernah menanyakan apa saja yang sudah dilakukan dengan wanita itu. 

Kadang sebagai istri selalu ingin tahu adegan apa saja yang sudah dimainkan oleh suami dan WILnya , padahal semua itu  hanya menambah luka hati.

Untuk para suami , berpikirlah  seribu kali sebelum bermain api. 

Kepercayaan yang hilang tak mudah kembali.

Luka hati tak mudah diobati. 

Lebih baik mencegah sebelum terjadi. Ingat selalu anak dan istri kemanapun pergi.

ALAM JIN DAN RAHASIANYA MENURUT ISLAM (Bagian#3)


Sikap Ahlus Sunnah wal Jamaah Terhadap Alam Ghaib

Para pembaca, Islam adalah rahmat bagi semesta alam. Agama sempurna dan penyempurna bagi ajaran para Nabi sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, agama yang telah memadukan antara konsep keilmuan yang benar dengan konsep keimanan yang lurus.

Keilmuan yang berasaskan keimanan, dan keimanan yang ditunjang oleh keilmuan.

Adapun keilmuan semata tanpa mempedulikan norma-norma keimanan, maka kesudahannya adalah kebinasaan, sebagaimana halnya orang-orang Yahudi dan yang sejenisnya.

Demikian pula keimanan (termasuk di dalamnya amalan) semata tanpa mempedulikan keilmuan, kesudahannya adalah kesesatan, sebagaimana halnya orang-orang Nashrani dan yang sejenisnya.

 Perpaduan antara dua konsep inilah yang menjadikan Islam sebagai agama wasathan (adil dan pilihan) dan bersih dari segala bentuk sikap berlebihan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Oleh karena itu, di antara para imam penulis kitab hadits yang menggunakan metode penyusunan berdasarkan babnya, ada yang memulai penyusunannya dengan (menyebutkan hadits-hadits tentang) pokok keilmuan dan keimanan.

Sebagaimana yang dilakukan Al-Imam Al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya, yang mana beliau memulainya dengan Kitab Bad`il Wahyi (awal mula turunnya wahyu); yang merinci tentang kondisi turunnya ilmu dan iman kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian mengiringinya dengan Kitabul Iman yang merupakan asas keyakinan terhadap apa yang dibawa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, setelah itu diiringi dengan Kitabul Ilmi yang merupakan perangkat untuk mengenal apa yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, demikianlah tertib penyusunan yang hakiki.

Begitu pula Al-Imam Abu Muhammad Ad-Darimi…” (Majmu’ Fatawa 2/4)

Sahabat-sahabatku, alam ghaib ibarat alam yang gelap gulita, sedangkan Al-Qur`an dan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ibarat dua cahaya yang terang benderang.

Dengan dua cahaya itulah berbagai peristiwa dan kejadian di alam ghaib tersebut menjadi jelas dan terang. Atas dasar itulah, setiap pribadi muslim wajib untuk mengembalikannya kepada firman Allah (Al-Qur`an) dan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (Al-Hadits).

Bila demikian, berarti semua perkara ghaib haruslah ditimbang dengan timbangan Islam yaitu; Al-Qur`an dan Al-Hadits dengan pemahaman para shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jika perkara ghaib (baca: yang dianggap ghaib) ternyata tidak ada keterangannya di dalam Al-Qur`an dan Al-Hadits, maka keberadaannya tidak boleh diimani dan diyakini.

Dan jika perkara ghaib tersebut diterangkan di dalam Al-Qur`an dan Al-Hadits, baik berkaitan dengan peristiwa-peristiwa di masa lampau maupun di masa datang, serta berbagai keadaan di akhirat dll, maka keberadaannya harus diimani dan diyakini, walaupun pandangan mata dan akal kita tidak menjangkaunya.
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di berkata: “Iman kepada perkara ghaib ini mencakup keimanan kepada semua yang Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam beritakan dari peristiwa-peristiwa ghaib di masa lampau dan di masa yang akan datang, berbagai keadaan di hari kiamat, dan tentang hakekat sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Taisir Al Karimirrahman hal. 24)

Beriman dengan (adanya) perkara ghaib yang diberitakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya merupakan salah satu ciri orang yang bertaqwa.

Sedangkan tidak beriman dengan perkara ghaib tersebut merupakan ciri orang kafir atau ahli bid’ah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الم. ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ. الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُوْنَ

“Alif laam miim. Kitab (Al-Qur`an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (Yaitu) mereka yang beriman kepada perkara ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (Al-Baqarah: 1-3)
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu berkata: “Hakekat iman adalah keyakinan yang sempurna terhadap semua yang diberitakan para Rasul, yang mencakup ketundukan anggota tubuh kepadanya.

Iman yang dimaksud di sini bukanlah yang berkaitan dengan perkara yang bisa dijangkau panca indra, karena dalam perkara yang seperti ini tidak berbeda antara muslim dengan kafir.

Akan tetapi permasalahannya berkaitan dengan perkara ghaib yang tidak bisa kita lihat dan saksikan (saat ini).

Kita mengimaninya, karena (adanya) berita yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah keimanan yang membedakan antara muslim dengan kafir, yang mengandung kemurnian iman kepada Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka, seorang mukmin (wajib) mengimani semua yang diberitakan Allah dan Rasul-Nya baik yang dapat disaksikan oleh panca inderanya maupun yang tidak dapat disaksikannya.

Baik yang dapat dijangkau oleh akal dan nalarnya maupun yang tidak dapat dijangkaunya.

Hal ini berbeda dengan kaum zanadiqah (yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran, -pen.) dan para pendusta perkara ghaib (yang telah diberitakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam).

 Dikarenakan akalnya yang bodoh lagi dangkal serta jangkauan ilmunya yang pendek, akhirnya mereka dustakan segala apa yang tidak diketahuinya. Maka rusaklah akal-akal (pemikiran) mereka itu, dan bersihlah akal-akal (pemikiran) kaum mukminin yang selalu berpegang dengan petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Taisir Al-Karimir Rahman hal. 23)

Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullahu berkata: “(Setiap muslim, -pen.) wajib beriman kepada semua yang diberitakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang dinukil secara shahih dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik perkara tersebut dapat dilihat mata maupun yang bersifat ghaib.

Kita mengetahui (baca; meyakini) bahwa semua itu benar, baik yang dapat dijangkau akal maupun yang tidak bisa dijangkau dan tidak dimengerti hakekat maknanya.” (Syarh Lum’atul I’tiqad, karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, hal. 101)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata: “Berbagai macam berita yang diriwayatkan secara shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka benar keberadaannya dan wajib dipercayai, baik dapat dirasakan oleh panca indera kita maupun yang bersifat ghaib, baik yang dapat dijangkau oleh akal kita maupun yang tidak.” (Syarh Lum’atul I’tiqad, hal. 101)

Demikianlah manhaj (prinsip) yang benar di dalam menyikapi alam ghaib dan berbagai peristiwanya. Siapa saja yang berprinsip dengannya, maka dia beruntung dan berada di atas jalan yang lurus. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَالَّذِيْنَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوْهُ وَنَصَرُوْهُ وَاتَّبَعُوا النُّوْرَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Maka orang-orang yang beriman kepadanya (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam), memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur`an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-A’raf: 157)

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوْحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلاَ اْلإِيْمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُوْرًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ. صِرَاطِ اللهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ أَلاَ إِلَى اللهِ تَصِيْرُ اْلأُمُوْرُ

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur`an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur`an) dan tidak pula mengetahui apakah iman, tetapi Kami menjadikan Al Qur`an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa saja yang Kami kehendaki dari hamba-hamba Kami. 
Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa hanya kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (Asy-Syura: 52-53)

Penutup
Para sahabat-sahabatku, dari bahasan di atas dapatlah diambil kesimpulan bahwa:
1. Setiap muslim wajib beriman dengan (adanya) alam ghaib dan semua peristiwanya yang diberitakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.

 Baik yang dapat dijangkau oleh akal dan panca indra maupun yang tidak.

2. Mengedepankan akal dalam permasalahan semacam ini merupakan pangkal kesesatan.
3. Setiap muslim wajib memahami berita yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya tentang alam ghaib dan peristiwanya, dengan pemahaman para shahabat Rasulullah (as-salafush shalih), karena ia merupakan jalan yang lurus.

Dan tidak dengan pemahaman ahli kalam, filsafat, atheis sufi, dan bahkan atheis dahriyyah yang menyesatkan.
Wallahu a’lam bish-shawab.
________________________________________________________________________________________________
1 Kondisinya, setiap satu berita yang benar diiringi dengan seratus berita dusta. Sebagaimana hadits ‘Aisyah yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 3210, 3288, 5762, 6213, 7561 dan Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya no. 2228.
2 Sebagaimana diterangkan dalam catatan kaki no. 1, hal. 5
3 Diringkas dari Dar`u Ta’arudhil Aqli Wan Naqli, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah 5/3-4, 6/3-4, dan 1/8-13.
4 Yakni tidak menemukan solusi dari masalah yang dibahasnya.


>>>> TAMAT