SELAMAT DATANG DI NOTE UNTUK KAMU

SELAMAT DATANG DI NOTE UNTUK KAMU

Blogger ini muncul berdasarkan dari beberapa permintaan saudara-saudariku semua..

Alhamdulillah akhirnya tercapai juga dan selesai sudah blogger ini dibuat...

Namun kesempurnaan blogger ini belumlah maximal.

Semoga dihari..hari mendatang dapat disempurnakan blogger ini

Dan blogger ini tercipta dan ada... karena... diri saudara-saudariku semua..

Dan...tiada artinya blogger"NOTE UNTUK KAMU" ini.. jika saudara-saudariku tidak berada didalamnya....

Salam Ukhwah..........

Aug 18, 2012

INILAH PRINSIP HIDUP JIKA ANDA MUSLIM

                

Disaat semua orang bingung, dengan model bagaimanakah saya hidup…
Ketika semua orang linglung, dengan prinsip hidup bagaimanakah saya pakai…
Islam dengan segala kesempurnaannya telah lama menghadirkan prinsip hidup seorang muslim yang begitu sempurna…dengan semua makna kesempurnaan…Allahu Akbar!!!
بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين, أما بعد:

1. PILIH YANG PALING MUDAH SELAMA BUKAN DOSA DAN YANG PALING MUDAH PASTI DARI ISLAM

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهَا قَالَتْ مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلاَّ أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ
Artinya: “’Aisyah radhiyallahu ‘anha istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bercerita: “Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dipilihkan antar dua pilihan melainkan beliau memilih yang paling mudah dari keduanya, selama itu bukan dosa, jika itu dosa, maka beliau manusia yang paling jauh dari dosa.” HR. Bukhari dan Muslim.
{يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ} [البقرة: 185]
Artinya: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” QS. Al Baqarah: 185.
{مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ } [المائدة: 6]
Artinya: “Allah tidak hendak menyulitkan kamu.” QS. Al Maidah: 6.

- Contoh dari permasalahan akidah: 
Menyembah hanya Allah semata lebih mudah daripada menyembah banyak sembahan

- Contoh dari permasalahan ibadah: 
 Beribadah sesuai dengan hanya mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih mudah dibandingkan beribadah dengan mencontoh banyak orang yang tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

- Contoh dari permasalahan mu’malah: 
 Berdagang yang jujur lebih mudah daripada tidak jujur dan menutup-nutupi keburukan barang atau lainnya.

- Contoh dalam tingkah laku: 
Berkata yang benar meskipun pahit lebih baik daripada menutupi terus-menerus di dalam kebatilan.

Silahkan cari contoh yang lain…

2. JANGAN PERNAH MELAKUKAN KESALAHAN YANG SAMA DUA KALI

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ ».
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang Mukmin tidak terperosok ke dalam lubang yang sama dua kali.” HR. Bukhari dan Muslim.

- Contoh permasalahan akidah: 
Jika sudah tahu bahwa selain Allah Ta’ala tidak pernah bisa mendengar permohonan kita, maka jangan pernah meminta/memohon kecuali kepada Allah

- Contoh permasalahan ibadah: 
Jika gara-gara begadang maka ketinggalan shalat shubuh, maka jangan pernah begadang.

- Contoh permasalahan mu’amalah: 
Jika pernah diberi amanah memegang uang tidak amanah, maka jangan pernah menerima amanah itu.

- Jika pernah berhutang dan malas bayar padahal sudah mampu, maka jangan pernah berhutang

- Contoh permasalahan tingkah laku
Jika orangtua sekarang tidak bisa baca Al Quran dan tidak banyak ilmu agama karena malas belajar agama, maka jangan tularkan itu kepada keturunannya.
Silahkan cari contoh yang lain.

3. MERASA SANGAT RUGI JIKA KETINGGALAN KESEMPATAN UNTUK BERIBADAH

عن نَافِعٌ قَالَ قِيلَ لاِبْنِ عُمَرَ إِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ تَبِعَ جَنَازَةً فَلَهُ قِيرَاطٌ مِنَ الأَجْرِ ». فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ أَكْثَرَ عَلَيْنَا أَبُو هُرَيْرَةَ. فَبَعَثَ إِلَى عَائِشَةَ فَسَأَلَهَا فَصَدَّقَتْ أَبَا هُرَيْرَةَ فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ لَقَدْ فَرَّطْنَا فِى قَرَارِيطَ كَثِيرَةٍ.

Artinya: 
“Nafi’ rahimaullah berkata: “Dikatakan kepada Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku Mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang telah mengikuti jenazah maka baginya satu qirath (gunung) pahala.” Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menyebutkan terlalu banyak untuk kita”, lalu beliau pergi menemui Aisyah radhiyallahu ‘anha dan bertanya (tentang hadits) dan ternyata ‘Aisyah membenarkan Abu Hurairah, maka Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sungguh, kita telah melalaikan bergunung-gunung pahala yang sangat banyak.” HR. Muslim.

Berkata Ibnu Hajar rahimahullah:
وفيه دلالة على فضيلة بن عمر من حرصه على العلم وتاسفه على ما فاته من العمل الصالح

Artinya: 
“Di dalam hadits ini menunjukkan keistimewaan Ibnu Umar radhiyiallahu ‘anhuma dari keinginan kuat atas ilmu dan perasaan merasa rugi atas apa yang tertinggal darinya berupa amal shalih.” Lihat kitab Fath Al Bary.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - وَهَذَا حَدِيثُ قُتَيْبَةَ أَنَّ فُقَرَاءَ الْمُهَاجِرِينَ أَتَوْا رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالُوا ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالدَّرَجَاتِ الْعُلَى وَالنَّعِيمِ الْمُقِيمِ. فَقَالَ « وَمَا ذَاكَ ». قَالُوا يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّى وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ وَلاَ نَتَصَدَّقُ وَيُعْتِقُونَ وَلاَ نُعْتِقُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَفَلاَ أُعَلِّمُكُمْ شَيْئًا تُدْرِكُونَ بِهِ مَنْ سَبَقَكُمْ وَتَسْبِقُونَ بِهِ مَنْ بَعْدَكُمْ وَلاَ يَكُونُ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِنْكُمْ إِلاَّ مَنْ صَنَعَ مِثْلَ مَا صَنَعْتُمْ ». قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « تُسَبِّحُونَ وَتُكَبِّرُونَ وَتَحْمَدُونَ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ مَرَّةً ». قَالَ أَبُو صَالِحٍ فَرَجَعَ فُقَرَاءُ الْمُهَاجِرِينَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالُوا سَمِعَ إِخْوَانُنَا أَهْلُ الأَمْوَالِ بِمَا فَعَلْنَا فَفَعَلُوا مِثْلَهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ».

Artinya: 
“Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatakan bahwa kaum miskin dari kaum fakir Muhajirin mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka mengadu: “Orang-orang kaya mendapatkan derajat yang tinggi dan nikmat yang abadi”, 

Lalu Rasulullah bertanya: “Kenapa demikian....?”, 

Orang-orang fakir berkata: “Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana mereka berpuasa, mereka bersedekah tapi kami tidak bersedekah, mereka memerdekakan dan kami tidak memerdekakan”, 

Maka rasulullah berkata: 
“Maukah kalian aku ajarkan sesuatu yang kalian dengan akan menyamai orang sebelum kalian dan mendahului orang setelah kalian dan tidak ada seorangpun yang lebih utama daripada kalian kecuali seorang yang berbuat seperti apa yang kalian perbuat.” 

Mereka berkata: 
“Tentu mau, wahai Rasulullah”, lalu beliau bersabda: “Kalian ucapkan subhanallah, alhamdulillah dan allahu akbar setiap akhir shalat sebanyak 33, 33, 33 kali”, 

 Abu Shalih berkata:
 “Maka kaum muhajirin kembali lagi kepada Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam, mereka berkata: “Kawan-kawan kami dari orang yang banyak harta mendengar (bacaan kami) maka mereka berbuat seperti apa yang kami kerjakan”, 

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: 
“Itulah kelebihan Allah yang Dia berikan kepada siapa yang dikehendakinya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

LIHAT BAGAIMANA ORANG-ORANG FAKIR DARI KAUM MUHAJIRIN MERASA RUGI KETIKA TIDAK MAMPU UNTUK BERSEDEKAH SEBAGAIMANA ORANG-ORANG KAYA.

Contoh:
-         Merasa rugi jika ketinggalan shalat berjamaah karena di dalamnya; ketinggalan pahala pergi ke masjid yaitu satu langkah diganjar pahala, satu langkah dihapuskan dosa, satu langkah diangkat derajat, ketinggalan pahala menjawab adzan yaitu mendapatkan syafaat rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ketinggalan pahala shalat qabliyyah yaitu mendapat sebuah rumah di dalam surga, ketinggalan kesempatan berdoa antar adzan dan iqamah yang tidak ada penghalang antaranya dengan Allah Ta’ala, ketinggalan pahala menunggu shalat yaitu didoakan oleh para malaikat, ketinggalan pahala shalat berjamaah yaitu 27 derajat dibandingkan shalat sendirian, ketinggalan pahala mendapatkan takbiratul ihram imam yaitu terlepas dari dua sifat, sifat kemunafikan dan sifat siksa neraka.

Contoh lain…silahkan cari sendiri…

4. LAKUKAN SEGALA AKTIFITAS HIDUP DUNIA TUJUANNYA ADALAH MASUK SURGA JAUH DARI API NERAKA

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ كُنْتُ مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فِى سَفَرٍ فَأَصْبَحْتُ يَوْماً قَرِيباً مِنْهُ وَنَحْنُ نَسِيرُ فَقُلْتُ يَا نَبِىَّ اللَّهِ أَخْبِرْنِى بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِى الْجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِى مِنَ النَّارِ . قَالَ « لَقَدْ سَأَلْتَ عَنْ عَظِيمٍ وَإِنَّهُ لَيَسِيرٌ عَلَى مَنْ يَسَّرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ تَعْبُدُ اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئاً وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِى الزَّكَاةَ وَتَصُومُ رَمَضَانَ وَتَحُجُّ الْبَيْتَ - ثُمَّ قَالَ - أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ الصَّوْمُ جُنَّةٌ وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ وَصَلاَةُ الرَّجُلِ فِى جَوْفِ اللَّيْلِ ». ثُمَّ قَرَأَ قَوْلَهُ تَعَالَى (تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ) حَتَّى بَلَغَ (يَعْمَلُونَ) ثُمَّ قَالَ « أَلاَ أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الأَمْرِ وَعَمُودِهِ وَذِرْوَةِ سَنَامِهِ ». فَقُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « رَأْسُ الأَمْرِ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ - ثُمَّ قَالَ « أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمِلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ ». فَقُلْتُ لَهُ بَلَى يَا نَبِىَّ اللَّهِ.
فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ فَقَالَ « كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا ». فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ فَقَالَ « ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ عَلَى وُجُوهِهِمْ فِى النَّارِ - أَوْ قَالَ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ - إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ ».

Artinya: 
“Mu’adz bin Jabal pernah berkata: “Aku pernah bersama nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam sebuah perjalanan, suatu pagi aku dekat dengan beliau ketika itu kita lagi dalam perjalanan, lalu aku bertanya: “Wahai Nabi Allah, beritahukanlah kepadaku akan sebuah amalan yang akan memasukkanku ke dalam surga da menjauhkanku dari neraka.” 

Beliau menjawab:
 “Sungguh kamu telah bertanya tentang yang agung dan sesungguhnya hal itu sangat mudah bagi siapa yang dimudahkan Allah atasnya, yaitu kamu beribadahlah kepada Allah tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, menunaikan haji, kemudian beliau berkata: “Maukah aku tujukan kepada pintu-pintu kebaikan...?, puasa adalah benteng, sedekah akan menghapuskan dosa, dan shalat seseorang pada malam hari…”. (HR. Ahmad).

عن رَبِيعَةُ بْنُ كَعْبٍ الأَسْلَمِىُّ قَالَ كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ فَقَالَ لِى « سَلْ ». فَقُلْتُ أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِى الْجَنَّةِ. قَالَ « أَوَغَيْرَ ذَلِكَ ». قُلْتُ هُوَ ذَاكَ. قَالَ « فَأَعِنِّى عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ ».

Artinya: 
“Rabi’ah binKa’ab Al Asalamy radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku pernah bermalam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu aku datang membawa wudhu dan hajat, lalu beliau berkata: “Mintalah”, maka akupun berkata: “Aku memohon kepadamu agar bisa bersamamu di dalam surga”, beliau bertanya: “Adakah yang lain...?”, aku berkata: “Itu saja”, beliau bersabda: “Maka tolonglah aku atas dirimu dengan banyak sujud”. *HR. Muslim).

LIHATLAH…BAGAIMANA PERMINTAAN MUADZ DAN RABI’AH radhiyallahu 'anhuma YANG MENUNJUKKAN BAHWA ORIENTASI MEREKA ADALAH MASUK SURGA JAUH DARI API NERAKA.  

5. MENINGGALKAN SESUATU YANG TIDAK BERMANFAAT, TERUTAMA TIDAK MANFAAT DI KEHIDUPAN AKHIRAT.

عنْ عَلِىِّ بْنِ حُسَيْنٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكَهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ ».

Artinya: 
“Ali bin Husain radhiyallahua ‘anhuma berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya termasuk kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.” HR. Tirmidzi.

Contoh:
-         Jika berkata-kata mendatangkan dosa, maka lebih baik diam
-         Jika keluar rumah mendatangkan dosa, maka lebih baik diam di dalam rumah kecuali harus keluar rumah maka harus jaga pandangan dan seluruh anggota tubuh shingga tidak mendatangkan dosa. 

Wallahu a’lam.

PERTANYAAN PERTAMA PADA SUAMI DAN ISTRI BAGIAN #4


DOSA BESAR BAGI ISTERI 

Termasuk dosa besar bagi seorang isteri adalah bila mana keluar rumah tanpa seijin suaminya. Kendati tujuannya untuk takziyah kepada orang tuanya yang mati. Tersebut dalam ihya ‘ulumuddin Imam Al Ghozali di katakan bahwa ada seorang lelaki (suami) hendak bepergian. Sebelum berangkat ia meminta istrinya agar tidak turun dari tempatnya yang berada di bagian bangunan tingkat atas. Sementara Orang tuanya berada di tingkat bawah. Orang tuanya sakit. Perempuan itu mengutus seorang pembantunya menghadap Rasulullah S.A.W untuk minta izin turun sebentar untuk membesuk orang tuanya. 

Rasulullah S.A.W.  bersabda : ”Taatilah suamimu. Jangan kau turun. . ”Tidak begitu lama, orang tuanya mati. Ia mengirim utusan menghadap Rasulullah S.A.W untuk memohonkan izin, agar dirinya dapat menyaksikan jenazah orang tuanya. 

Rasulullah S.A.W.  bersabda : ”Taatilah suamimu”. Maka orang tuanyapun di kuburkan. tidak begitu lama Rasulullah S.A.W. mengutus seseorang untuk memberi tahu pada perempuan itu bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosa orang tuanya disebabkan ketaatan perempuan itu pada suaminya. 

FAIDAH 

Ada seorang Ibu memberi nasehat pada putrinya, IA berkata peliharalah sepuluh tingkah ini, niscaya kamu akan menjadi simpanan, Yaitu: Pertama dan kedua : Mudah menerima keadaan (qona’ah), berbakti dan mentaati suami. Ketiga dan keempat, hendaknya kamu menjadikan dirimu sebagai perempuan yang selalu didambakan dan dirindukan lantaran tatapan mata dan ciumannya. Artinya hendaknya kamu jangan sampai dilihat suamimu sebagai perempuan yang di benci (atau perempuan yang buruk). hendaknya suamimu tidak pernah berkasih mesra dengan dirimu kecuali dalam keadaan selalu harum melekat dalam dirimu. Kelima dan keenamnya hendaknya kamu selalu menjadi perhatian sewaktu suamimu makan dan tidur. Sebab rasa lapar itu mudah menimbulkan pemberontakan nafsu dan sulit tidur, bahkan mempermudah tumbuhnya kemarahan. Ketujuh dan kedelapannya hendaknya kamu pandai pandai memelihara harta dan rahasia keluarga suami yang dapat mempermalukan dirinya. Kesembilan dan kesepuluhnya : Hendaknya kamu jangan menentang perintahnya, dan jangan suka menyebarkan rahasia suami. Karena kalau kamu menentang perintahnya akan sangat mudah menimbulkan/meledakkan kemarahannya. Kalau kamu menyebarluaskan rahasianya berarti kamu tidak dapat di percaya jika dia sedang tidak ada dirumah. Ingatlah baik baik ingatlah. Sekali sekali kamu jangan menunjukkan kegembiraan di hadapannya, selagi suamimu sedang bersedih. Sebaliknya jangan berwajah cemberut selagi suamimu berwajah berbinar binar lagi gembira. 

Rasulullah S.A.W bersabda : ”Sesungguhnya seorang istri yang keluar rumah sedangkan suaminya tidak menyukainya maka seluruh malaikat melaknatinya, demikian pula semua barang yang di lewatinya, selain jin dan manusia. Sehingga dirinya kembali dan bertaubat. 

PAHALA BAGI PEREMPUAN YANG HAMIL 

Tersebut dalam riwayat bahwa Nabi Muhammad S.A.W.  bersabda : ”Apakah salah seorang di antara kamu senang, hai kaum isteri, kalau kamu sedang mengandung dari hasil hubungan dengan suaminya, sementara suaminya merasa senang. Sesungguhnya perempuaan yang sedang hamil memperoleh pahala seperti pahalanya orang yang sedang berpuasa sambil perang di jalan Allah. Apabila mencapai puncak sakit mendekati melahirkan semua penduduk langit tidak ada yang tahu perkara apa yang disamarkan baginya, berupa ketenangan bathinnya. Apabila telah melahirkan, maka tidak ada tetesan air susu yang keluar dari susu ibunya dan tidaklah si bayi menghisap air susu ibunya kecuali pada setiap tetesan dan isappan di catat sebagai satu kebaikkan. Jika di waktu malamnya ia terjaga maka ia memperoleh pahala, bagaikan pahala memerdekakan tujuh puluh budak yang di merdekakan di jalan Allah secara ikhlas, (di riwayatkan Hasa bin sufyan dan Tabrani, ibnu Asakir dari salamah) 

Rasulullah bersabda : ”INNARRAJUULA IDZAA NADZARA ILAAM RA-ATIHII WANADZARAT ILAIHI NADZARALLAAAHU ILAIHIMAA NADZARA RAHMATIN FAIDZAA AKHADZA BIKAFFIHAA TASAA QATHAT DZUNUUBUHUMAAA MIN KHILAALIN ASHAABI’IHIMAA” “Sesungguhnya seorang suami apabila memperhatikan isterinya dan isterinya balas memerhatikan suaminya, maka Allah memperhatikan mereka berdua dengan perhatian penuh rahmat. Manakala suaminya merengkuh telapak tangannya (diremas remas) maka berguguranlah dosa dosa suami istri itu dari sela sela jari jemarinya. (di riwayatkan maisarah bin Ali dari Ar rafi’i dari sa’id Al Khudzi Ra) 

Diriwayatkan dari Nabi Muhammad S.A.W bahwa : ”INNARRAJULA LAYUJAMI’U AHLAHU FAYUKTABU LAHU BIJIMA’IHI AJRU WALADI DZKARIN QAATALA FII SABILILLAAHI FAQUTILU”. 
“Sesungguhnya seorang suami yang menggauli istrinya, maka pergaulannya itu dicatat memperoleh pahala seperti pahalanya anak lelaki yang berperang di jalan Allah lalu terbunuh (Al hadits) 

Ketahuilah bahwa, ada beberapa faktor yang dapat membentuk seseorang anak dekat dengan Allah Antara lain: 
1. Sejalan dengan yang di cintai Allah, bahwa putera yang dihasilkan itu di maksud untuk menyambung generasi manusia. 
2. Mencari kecintaan dari Rasulullah S.A.W, maksudnya untuk memperbanyak (memperbesar) jumlah umatnya Nabi Muhammad S.A.W yang anak besar jumlah umat itu menyebabkan kebanggaan beliau. 
3. Mengharap kelak memperoleh do’a anak yang sholeh setelah kematiannya. 
4. Mencari syafa’at dengan kematian anak yang masih berusia anak anak, sebelum kematian dirinya sendiri (orang tua). 

Aug 9, 2012

TAKDIR DALAM PANDANGANA ISLAM BAGIAN #1

Engkau tidak dikatakan beriman kepada Allah hingga engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk dan engkau harus mengetahui bahwa apa saja yang akan menimpamu tidak akan luput darimu dan apa saja yang luput darimu tidak akan menimpamu.

Beriman kepada Takdir
Kaum muslimin yang semoga dimuliakan oleh Allah Ta’ala, salah satu rukun iman yang wajib diimani oleh setiap muslim adalah beriman kepada takdir baik maupun buruk.

Perlu diketahui bahwa beriman kepada takdir ada empat tingkatan :
[1] Beriman kepada ilmu Allah yang ajali sebelum segala sesuatu itu ada.
Di antaranya seseorang harus beriman bahwa amal perbuatannya telah diketahui (diilmui) oleh Allah sebelum dia melakukannya.
[2] Mengimani bahwa Allah telah menulis takdir di Lauhul Mahfuzh.
[3] Mengimani masyi’ah (kehendak Allah) bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah karena kehendak-Nya. [4] Mengimani bahwa Allah telah menciptakan segala sesuatu. Allah adalah Pencipta satu-satunya dan selain-Nya adalah makhluk termasuk juga amalan manusia.
Dalil dari tingkatan pertama dan kedua di atas adalah firman Allah Ta’ala (yang artinya),”Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi..?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh).

Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.
” (QS. Al Hajj [22] : 70).

Kemudian dalil dari tingkatan ketiga di atas adalah firman Allah (yang artinya),”Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At Takwir [81] : 29).

Sedangkan untuk tingkatan keempat, dalilnya adalah firman Allah (yang artinya),”Allah menciptakan kamu dan apa saja yang kamu perbuat.” (QS. Ash-Shaffaat [37] : 96).

Pada ayat ‘Wa ma ta’malun’ (dan apa saja yang kamu perbuat) menunjukkan bahwa perbuatan manusia adalah ciptaan Allah.
Macam-macam Takdir
Takdir itu ada 2 macam :
[1] Takdir umum mencakup segala yang ada.

Takdir ini dicatat di Lauhul Mahfuzh. Dan Allah telah mencatat takdir segala sesuatu hingga hari kiamat. Takdir ini umum bagi seluruh makhluk.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan Allah adalah qalam (pena). Allah berfirman kepada qalam tersebut,“Tulislah”. Kemudian qalam berkata,“Wahai Rabbku, apa yang akan aku tulis?” Allah berfirman,“Tulislah takdir segala sesuatu yang terjadi hingga hari kiamat.” (HR. Abu Daud. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud).
[2] Takdir yang merupakan rincian dari takdir yang umum.

Takdir ini terdiri dari :
(a) Takdir ‘Umri yaitu takdir sebagaimana terdapat pada hadits Ibnu Mas’ud, di mana janin yang sudah ditiupkan ruh di dalam rahim ibunya akan ditetapkan mengenai 4 hal :
(1) rizki, (2) ajal, (3) amal, dan (4) sengsara atau berbahagia.
(b) Takdir Tahunan yaitu takdir yang ditetapkan pada malam lailatul qadar mengenai kejadian dalam setahun. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),”Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad Dukhan [44] : 4).

Ibnu Abbas mengatakan,”Pada malam lailatul qadar, ditulis pada ummul kitab segala kebaikan, keburukan, rizki dan ajal yang terjadi dalam setahun.” (Lihat Ma’alimut Tanzil, Tafsir Al Baghowi) Seorang muslim harus beriman dengan takdir yang umum dan terperinci ini.

Barangsiapa yang mengingkari sedikit saja dari keduanya, maka dia tidak beriman kepada takdir. Dan berarti dia telah mengingkari salah satu rukun iman yang wajib diimani.
Salah dalam Menyikapi Takdir
Dalam menyikapi takdir Allah, ada yang mengingkari takdir dan ada pula yang terlalu berlebihan dalam menetapkannya.
Yang pertama ini dikenal dengan Qodariyyah.

Dan di dalamnya ada dua kelompok lagi.

Kelompok Pertama adalah yang paling ekstrim.

Mereka mengingkari ilmu Allah terhadap segala sesuatu dan mengingkari pula apa yang telah Allah tulis di Lauhul Mahfuzh.

Mereka mengatakan bahwa Allah memerintah dan melarang, namun Allah tidak mengetahui siapa yang ta’at dan berbuat maksiat.

Perkara ini baru saja diketahui, tidak didahului oleh ilmu Allah dan takdirnya.

Namun kelompok seperti ini sudah musnah dan tidak ada lagi.

Kelompok kedua
adalah yang menetapkan ilmu Allah, namun meniadakan masuknya perbuatan hamba pada takdir Allah.

Mereka menganggap bahwa perbuatan hamba adalah makhluk yang berdiri sendiri, Allah tidak menciptakannya dan tidak pula menghendakinya.

Inilah madzhab mu’tazilah.

Kebalikan dari Qodariyyah adalah kelompok yang berlebihan dalam menetapkan takdir sehingga hamba seolah-olah dipaksa tanpa mempunyai kemampuan dan ikhtiyar (usaha) sama sekali.

Mereka mengatakan bahwasanya hamba itu dipaksa untuk menuruti takdir.

Oleh karena itu, kelompok ini dikenal dengan Jabariyyah.
Keyakinan dua kelompok di atas adalah keyakinan yang salah sebagaimana ditunjukkan dalam banyak dalil. Di antaranya adalah firman Allah (yang artinya),”(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.
Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.
” (QS. At Takwir [81] : 28-29).

Ayat ini secara tegas membantah pendapat yang salah dari dua kelompok di atas.

Pada ayat,(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus merupakan bantahan untuk jabariyyah karena pada ayat ini Allah menetapkan adanya kehendak (pilihan) bagi hamba. Jadi manusia tidaklah dipaksa dan mereka berkehendak sendiri.

Kemudian pada ayat selanjutnya,Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam” merupakan bantahan untuk qodariyyah yang mengatakan bahwa kehendak manusia itu berdiri sendiri dan diciptakan oleh dirinya sendiri tanpa tergantung pada kehendak Allah. Ini perkataan yang salah karena pada ayat tersebut, Allah mengaitkan kehendak hamba dengan kehendak-Nya.
Keyakinan yang Benar dalam Mengimani Takdir
Keyakinan yang benar adalah bahwa semua bentuk ketaatan, maksiat, kekufuran dan kerusakan terjadi dengan ketetapan Allah karena tidak ada pencipta selain Dia.

Semua perbuatan hamba yang baik maupun yang buruk adalah termasuk makhluk Allah.

Dan hamba tidaklah dipaksa dalam setiap yang dia kerjakan, bahkan hambalah yang memilih untuk melakukannya.
As Safariny mengatakan, ”Kesimpulannya bahwa mazhab ulama-ulama terdahulu (salaf) dan Ahlus Sunnah yang hakiki adalah meyakini bahwa Allah menciptakan kemampuan, kehendak, dan perbuatan hamba.

Dan hambalah yang menjadi pelaku perbuatan yang dia lakukan secara hakiki. Dan Allah menjadikan hamba sebagai pelakunya, sebagaimana firman-Nya (yang artinya),”Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah” (QS. At Takwir [81] : 29).

Maka dalam ayat ini Allah menetapkan kehendak hamba dan Allah mengabarkan bahwa kehendak hamba ini tidak terjadi kecuali dengan kehendak-Nya.

Inilah dalil yang tegas yang dipilih oleh Ahlus Sunnah.”
Jangan Hanya Bersandar pada Takdir Allah
Sebagian orang ada yang salah paham dalam memahami takdir.

Mereka menyangka bahwa seseorang yang mengimani takdir itu hanya pasrah tanpa melakukan sebab sama sekali.

Contohnya adalah seseorang yang meninggalkan istrinya berhari-hari untuk berdakwah keluar kota. Kemudian dia tidak meninggalkan sedikit pun harta untuk kehidupan istri dan anaknya.

Lalu dia mengatakan,”Saya pasrah, biarkan Allah yang akan memberi rizki pada mereka”.

Sungguh ini adalah suatu kesalahan dalam memahami takdir.

Ingatlah bahwa Allah memerintahkan kita untuk mengimani takdir-Nya, di samping itu Allah juga memerintahkan kita untuk mengambil sebab dan melarang kita bermalas-malasan.

Apabila kita telah mengambil sebab, namun kita mendapatkan hasil yang sebaliknya, maka kita tidak boleh berputus asa dan bersedih karena hal ini sudah menjadi takdir dan ketentuan Allah.

Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu. Dan minta tolonglah pada Allah dan janganlah malas. Apabila kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu berkata: ‘Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu’, tetapi katakanlah: ‘Qodarollahu wa maa sya’a fa’al’ (Ini telah ditakdirkan oleh Allah dan Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya) karena ucapan’seandainya’ akan membuka (pintu) setan.” (HR. Muslim)
Buah dari Beriman kepada Takdir
Di antara buah dari beriman kepada takdir dan ketetapan Allah adalah hati menjadi tenang dan tidak pernah risau dalam menjalani hidup ini.

Seseorang yang mengetahui bahwa musibah itu adalah takdir Allah, maka dia yakin bahwa hal itu pasti terjadi dan tidak mungkin seseorang pun lari darinya.

Dari Ubadah bin Shomit, beliau pernah mengatakan pada anaknya, ”Engkau tidak dikatakan beriman kepada Allah hingga engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk dan engkau harus mengetahui bahwa apa saja yang akan menimpamu tidak akan luput darimu dan apa saja yang luput darimu tidak akan menimpamu.

Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Takdir itu demikian. Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak beriman seperti ini, maka dia akan masuk neraka.” (Shohih. Lihat Silsilah Ash Shohihah no. 2439)
Maka apabila seseorang memahami takdir Allah dengan benar, tentu dia akan menyikapi segala musibah yang ada dengan tenang.

Hal ini pasti berbeda dengan orang yang tidak beriman pada takdir dengan benar, yang sudah barang tentu akan merasa sedih dan gelisah dalam menghadapi musibah.

Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk sabar dalam menghadapi segala cobaan yang merupakan takdir Allah.
Ya Allah, kami meminta kepada-Mu surga serta perkataan dan amalan yang mendekatkan kami kepadanya. Dan kami berlindung kepada-Mu dari neraka serta perkataan dan amalan yang dapat mengantarkan kami kepadanya.

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu, jadikanlah semua takdir yang Engkau tetapkan bagi kami adalah baik. Amin Ya Mujibbad Da’awat.
[Sumber rujukan utama : [1] Al Irsyad ila Shohihil I’tiqod, Syaikh Fauzan Al Fauzan, [2] Syarh Al Aqidah Al Wasithiyyah, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin]

Aug 7, 2012

QALBU YANG MENANGIS

Hati siapa yang tidak menjerit ketika seorang istri yang melihat suaminya disiang hati bergandengan tangan dengan seorang perempuan muda....?

Hati siapa yang tak menjerit..........?

Begitu tutur seorang perempuan muda.

Luka hatinya sudah mengering.

Goresan-goresannya belum hilang benar.

Susah sekali untuk bisa memaafkan bukan berarti sesuatu yang tidak mungkin.

Begitu mengetahui orang yang sangat dihormatinya dan disayanginya telah menghianati cinta, atmosphere mata terurai dengan derasnya.

Ditanyakan hal itu pada suaminya.
 
Berkali-kali suaminya meminta maaf dan mengatakan dirinya khilaf.

Hari itu dunia menjadi terasa gelap.

Anak-anaknya duduk terdiam melihat ibundanya sedang menangis.

 Teringat masa indah diwaktu perkenalan.

Waktu itu suaminya sebagai ketua remaja masjid dan dirinya sebagai sekretarisnya.

Pertemuan itu menebar bibit cinta.

Tak lama berselang dirinya dilamar.

Keinginannya yang kuat untuk menyempurnakan ibadahnya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kemudian pernikahan itu terlaksana dengan meriah.

Kehidupan menjadi terasa begitu indah dengan kehadiran sang buah hati.

Dua Keluarga besar berkumpul untuk mensyukuri kelahiran putra pertamanya.

Disisi lain karier suaminya juga mulai menanjak.

Kehidupan yang dulunya serba susah kini menjadi lebih baik.

Dulu yang serba kekurangan boleh terbilang sekarang rizki melimpah. ‘Alhamdulillah Mas, rizki melimpah tidak membuat kami jauh dari Sang Khaliq.’ tuturnya.

Sejak pertengkaran hebat itu suaminya jarang pulang ke rumah, memilih menginap di rumah orang tuanya. Sampai pada suatu hari badan putranya yang pertama sakit panas telah membuatnya panik.

Dibawanya ke dokter. Anaknya yang kedua memaksa dirinya untuk menghubungi suaminya.

Air mata itu terus berlinang mengabarkan keadaan anaknya yang sedang sakit kepada suaminya sampai akhirnya dirinya bertemu dengan suaminya untuk menjenguk anaknya yang sedang di rawat di Rumah Sakit.

Pertemuan di Rumah Sakit itu terlihat suaminya menangis terisak-isak bagai anak kecil.

Selama sepuluh tahun pernikahannya baru kali ini melihat suaminya menangis seperti dan sekarang menangis takut kehilangan istri dan anak-anaknya.

Dipeluk suami dan anak-anaknya.

Kata memaafkan menjadi  terasa menenteramkan hati dan pikirannya.

Hanya semata-mata ketaqwaannya kepada Allahlah memaafkan setulus hati dengan begitu mudah dilakukannya. “Saya teringat pesan Bang Rino waktu itu kepada saya, bahwa Nabi mengajarkan kepada kita agar memaafkan karena dengan memaafkan Allah memberikan kemuliaan pada hidup kita,’ tutur beliau. ‘Alhamdulillah dengan peristiwa ini kami sekeluarga semakin meningkatkan ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.’ lanjutnya.

Sore hari itu matahari mulai menenggelamkan dirinya. Puji syukur tak lupa selalu dipanjatkan kehadiratNya. Begitu indah hidup ini dengan memaafkan setulus hati. ‘Allah akan membalas orang yang memaafkan orang lain dengan menambahkan kemuliaannya.’ (HR. Muslim).

Jul 27, 2012

PENGRUSAKAN AKIDAH ISLAM DENGAN PENCUCIAN OTAK GAYA BARU (



Prof. DR. Abdul Rahman H. Habanakah
 Ketika melihat binatang-binatang kecil (ulat atau serangga lainnya) memasuki buah,pohon-pohonan dan melubanginya, saya merasa memperoleh pelajaran darinya,bagaimana musuh-musuh Islam bekerja untuk merusak dan menghancurkan Islam.

Mereka berusaha mengosongkan kandungan Islam baik yang berkenaan dengan aqidah,amaliah, maupun akhlaknya, hingga tinggal kulitnya yang hampa tak berisi, kemudiandivonisnya sebagai sesuatu yang layak dibuang ke keranjang sampah.

Begitulah merekabekerja dan melakukan tipu dayanya untuk merusak Islam.

Buah yang segar, tumbuh dengan lebat, tetapi pemiliknya lalai, tidak mengawasinya danmemeliharanya dengan baik, sehingga didatangi ulat tanpa sepengetahuannya.
Maka,bersembunyilah ulat itu pada begian yang tersamar dengan membuat lubang kecil.
Tak ada yang mengetahuinya, baik pemiliknya maupun orang yang lalu-lalang di situpulang-pergi, pagi dan petang. Lalu ulat itu beraksi di tempat yang terlindung darimatahari.
Digerogotinya terus buah itu untuk membuat jalan bagi dirinya, sambilmemakan bagian kanan. dan kirinya. Begitulah ulat itu hidup dalam kegelapan di dalambuah tadi, sambil merayap masuk hingga sampai ke inti buah. Sampailah ia padasasaran dan didapatkannya, makanan yang lezat. Lalu dimakannya apa yang ada disekelilingnya, hingga habislah daging buah itu, tinggalah kulitnya yang telah layu danlantas gugur ke bumi
Begitulah musuh-musuh Islam bekerja merusak Islam.
Demikianlah mereka melakukanmakar dan tipu dayanya.

Banyak nian pihak musuh yang berlomba-lomba memperebutkan taman yang indahdan subur serta rimbun itu untuk memakan buahnya dan merusak pohonnya, lantas mencampakkannya ke tanah tandus dan gersang.
Taman yang indah dan subur tadiadalah Al Islam dengan segala kebaikan, kesuburan, dan perkembangannya.

Denganaqidahnya yang benar yang ditegakkan atas bukti-bukti yang akurat, ayat-ayat dan keterangan-keterangan yang jelas, dan hujjah-hujjah yang kukuh.
Denganperibadatannya yang indah dan baik, mudah dan berguna, yang menyebabkan pihak non-muslim merasa iri. juga dengan peraturan-peraturannya yang baik yang mampumembahagiakan manusia, yaitu peraturan-peraturan Allah yang unggul dan sempurnasehingga undang-undang dan peraturan buatan manusia tak mampu menandinginya.
Setelah melalui percobaan dan pengujian berkali-kali -disadari atau tidak-undang-undang dan peraturan buatan manusia itu akan sesuai hanya bila dijiwai oleh nilai-nilaiIslam.

Kekufuran yang hendak merusak taman itu adalah satu, meskipun aliran dan sektenyaberbeda-beda sesuai dengan dendam, dengki, dan tipu dayanya.

Kejahatan dan kelompok penjahat itu bertingkat-tingkat, sebagaimana kerusakan danperusakan buah-buahan yang dilakukan oleh ulat atau serangga lainnya.

Sebagian masyarakat Islam telah menghadapi serangan orang-orang kafir perusak ini,lantas mereka mengalami seperti apa yang terjadi pada buah-buahan tadi; dimakan ulat hingga tinggal kulitnya, sehingga orang yang membukanya akan mendapati bagiandalamnya hampa, tak ada sesuatu yang dapat dimakan karena sudah dimakan oleh ulat-ulat itu.

Bahkan ulat itu membuang kotorannya di dalam buah itu, atau merusaknyasekaligus. Lalu diceritakannya kepada orang yang melihatnya bahwa ia telah merusak dan mengosongkan isi buah itu, juga mengalihkan perhatian penjaganya hingga tidak memperhatikan tanamannya.

Tiada yang tinggal pada masyarakat Islam kecuali fanatisme belaka, dan apalah artisebuah nama jika isinya tidak sesuai dengan nama tersebut..?

Kalau kita mengambilsepotong tembikar kemudian kita sepuh bagian luarnya dengan warna emas dan kitasebut emas, maka dapatkah warna dan sebutan ini menjadikannya emas yang sesungguhnya…?

Alangkah banyaknya kaum Muslimin yang tidak memiliki Islam kecuali labelnya saja,dan tidak beragama kecuali statusnya saja.



Mereka memiliki derajat serendah ini karenasikap sembrono dan akibat tipu daya musuh-musuh mereka, musuh agama mereka,musuh sejarah dan kehormatan serta harga did mereka.

Musuh-musuh Islam terus bekerja untuk merobohkan sendi-sendi aqidah Islam padahati dan pikiran kaum muslimin, sehingga tidak ada lagi motivator dan ghirah sertaunsur-unsur yang mampu mengembalikan mereka kepada kejayaan Islam, karenamereka telah berpaling dan tidak lagi mempraktekkan ajaran Islam.


Untuk mewujudkantujuan ini, mereka menempuh berbagai jalan, antara lain dengan memisah-misahkanrukun-rukun aqidah Islam serta menumbuhkan syubhat dan keragu-raguan kepada

Begitulah musuh-musuh Islam bekerja merusak Islam. Demikianlah mereka melakukanmakar dan tipu dayanya.


Banyak nian pihak musuh yang berlomba-lomba memperebutkan taman yang indahdan subur serta rimbun itu untuk memakan buahnya dan merusak pohonnya, lantasmencampakkannya ke tanah tandus dan gersang.

Taman yang indah dan subur tadiadalah Al Islam dengan segala kebaikan, kesuburan, dan perkembangannya.

Dengan aqidahnya yang benar yang ditegakkan atas bukti-bukti yang akurat, ayat-ayat danketerangan-keterangan yang jelas, dan hujjah-hujjah yang kukuh.

Denganperibadatannya yang indah dan baik, mudah dan berguna, yang menyebabkan pihak non-muslim merasa iri. juga dengan peraturan-peraturannya yang baik yang mampu membahagiakan manusia, yaitu peraturan-peraturan Allah yang unggul dan sempurnasehingga undang-undang dan peraturan buatan manusia tak mampu menandinginya.

Setelah melalui percobaan dan pengujian berkali-kali -disadari atau tidak-undang-undang dan peraturan buatan manusia itu akan sesuai hanya bila dijiwai oleh nilai-nilaiIslam.

Kekufuran yang hendak merusak taman itu adalah satu, meskipun aliran dan sektenyaberbeda-beda sesuai dengan dendam, dengki, dan tipu dayanya.

Kejahatan dan kelompok penjahat itu bertingkat-tingkat, sebagaimana kerusakan danperusakan buah-buahan yang dilakukan oleh ulat atau serangga lainnya.

Sebagian masyarakat Islam telah menghadapi serangan orang-orang kafir perusak ini,lantas mereka mengalami seperti apa yang terjadi pada buah-buahan tadi; dimakan ulat hingga tinggal kulitnya, sehingga orang yang membukanya akan mendapati bagian dalamnya hampa, tak ada sesuatu yang dapat dimakan karena sudah dimakan oleh ulat-ulat itu.



Bahkan ulat itu membuang kotorannya di dalam buah itu, atau merusaknyasekaligus. Lalu diceritakannya kepada orang yang melihatnya bahwa ia telah merusak dan mengosongkan isi buah itu, juga mengalihkan perhatian penjaganya hingga tidak memperhatikan tanamannya.

Tiada yang tinggal pada masyarakat Islam kecuali fanatisme belaka, dan apalah artisebuah nama jika isinya tidak sesuai dengan nama tersebut……………?

Kalau kita mengambilsepotong tembikar kemudian kita sepuh bagian luarnya dengan warna emas dan kitasebut emas, maka dapatkah warna dan sebutan ini menjadikannya emas yang sesungguhnya……..?

Alangkah banyaknya kaum Muslimin yang tidak memiliki Islam kecuali labelnya saja,dan tidak beragama kecuali statusnya saja.

Mereka memiliki derajat serendah ini karenasikap sembrono dan akibat tipu daya musuh-musuh mereka, musuh agama mereka,musuh sejarah dan kehormatan serta harga did mereka.

Musuh-musuh Islam terus bekerja untuk merobohkan sendi-sendi aqidah Islam padahati dan pikiran kaum muslimin, sehingga tidak ada lagi motivator dan ghirah sertaunsur-unsur yang mampu mengem balikan mereka kepada kejayaan Islam, karena mereka telah berpaling dan tidak lagi mempraktekkan ajaran Islam.

Untuk mewujudkantujuan ini, mereka menempuh berbagai jalan, antara lain dengan memisah-misahkan rukun-rukun aqidah Islam serta menumbuhkan syubhat dan keragu-raguan kepada para pemuda dan remaja muslim yang sedang menuntut ilmu dan mencari perbekalandengan peradaban modern.

Mereka menanamkan keraguan tentang adanya Allah Pencipta Alam.

Mereka menimbulkan skeptisisme terhadap malaikat dan wahyu.

Mereka menanamkan rasasyak mengenai rasul-rasul dan kitab-kitab Allah.

Mereka angkat kembali ke permukaanperkataan-perkataan dan slogan kaum jahiliyah tempo dulu yang mengingkari haria khir dan kebangkitan.

Mereka menimbulkan kesamaran tentang qadha dan qadar dalam bidang aqidah.

Mereka menjauhkan generasi muda kita dari ajaran Islam yang sebenarnya dengan mendangkalkan pengertiannya, sehingga menimbulkan kesamarandan keragu-raguan.

Mereka menciptakan lapangan pengetahuan baru denganmetodologi yang dapat mengendalikan generasi muda kita untuk mengikuti segala kehendak mereka, dan menjadikan putra-putra Islam ini musuh bagi agamanya,umatnya, dan sejarahnya sendiri.



Apabila generasi muda kita telah kosong dari pokok-pokok aqidah yang merupakanfondasi untuk membangun kepribadiannya, maka tidak ada lagi pilihan bagi merekakecuali mengikuti jalan hidup dan aqidah yang di impor dari wilayah musuh.

Ketikaitulah mereka merasa dan memandang rendah terhadap dirinya sendiri, kemudianmenyerah secara total untuk mengikuti langkah hidup musuh-musuhnya.

Maka umat Islam menjadi santapan lezat dan minuman yang segar bagi musuh-musuhnya.

Langkah-langkah mereka sangat strategis, sejarah pun belum pernah melihat makardan tipu daya yang lebih jahat dan lebih buruk daripadanya.

Dan pada masa sekarangbanyak umat Islam yang hangus terbakar olehnya.

Untuk menghancurkan bangunanumat yang megah dan mulia dalam hal pikirannya, jiwanya, akhlaknya, maupunsejarahnya, mereka menempuh tiga langkah yang membahayakan, yaitu:

Pertama:

Mengosongkan pikiran, hati, dan jiwa generasi muda Islam dari pikiran-pikiran Islami, dan dari akhlak Islami, serta mencabut semua pengaruhnya. Inilah yangterkenal dengan istilah cuci otak.
Kedua:

Mengisi pikiran, hati dan jiwa mereka yang telah kosong dengan ide-ide danpemikiran yang penuh kebohongan dan kepalsuan, agar dapat melayani kehendak dankemauan musuh dan untuk menghan curkan eksistensi umat Islam.

Ketiga:

Mengerahkan pasukan yang mereka ciptakan untuk merobohkan sendi-sendibangunan umat, memerangi pikiran dan aqidahnya, atau akhlak dan jalan hidupnya,serta memutarbalikkan sejarah serta keagungan Islam dan umatnya.

Untuk mencuci otak generasi muda Islam dari ajaran dan akhlak Islam, serta agar tidak mengenal dan mengetahui lagi wajah ajaran Islam yang sebenarnya, musuh-musuh Islam itu menggunakan cara-cara sebagai berikut:

Pertama

- Memisahkan ilmu agama dari ilmu-ilmu umum dan membuat jurang pemisahyang amat dalam antara keduanya, dan mempertentangkan kedua jenis ilmu tersebut.jalan untuk memperoleh kekayaan dan kedudukan duniawi dimudahkan bagi parapeminat ilmu umum dan jalan bagi para penuntut ilmu agama ditutup rapat.



Tidak hanya sampai di situ, mereka pun berusaha menjauhkan peminat ilmu umum dari ilmu-ilmu agama, dan sebaliknya menjauhkan para peminat ilmu agama dari ilmu-ilmuumum agar tidak tampak kaitan dan ikatan antara kedua ilmu tersebut. Pemisahan inidimaksudkan agar kaum muslimin tidak dapat mencapai kemuliaan duniawi danukhrawi sekaligus.Dengan pemisahan dan pemilahan ini, maka timbullah fanatisme pada masing-masingkelompok terhadap ilmu yang ditekuninya, dan bersimpang pula jalan yang merekatempuh, sehingga menumbuhkan benih-benih perpecahan dan pertentangan. Masing-masing kelompok berkeyakinan bahwa ilmu agama dan ilmu umum memangbertentangan. Padahal semua bidang ilmu adalah untuk mencari hakikat kebenaran,sedangkan antara hakikat-hakikat itu tidak ada pertentangan sama sekali, bahkan salingberkaitan dan bersesuaian. Pertentangan hanya akan terjadi antra kebenaran dankebatilan, antara dusta dan kejujuran.Dengan adanya pernisahan ini, maka para peminat ilmu agama di negara-negara Islammenjauhkan diri dari semua lapangan kehidupan kecuali hal-hal yang berkaitanlangsung dengan masjid, ibadah-ibadah ritual (mahdhah), dan kegiatan-kegiatan agamasecara khusus dengan menyempitkan jalan pencarian rizkinya. Adapun di luar itu,mereka sama sekali menutup diri, sehingga terisolasi dari kegiatan-kegiatan sosial. Bilamereka mengemukakan pemikiran dan gagasan, masyarakat pun tidak menerimanya.Dengan demikian, mereka tidak dapat lagi mengikuti aktifitas orang-orang upahanmusuh-musuh Islam dan antek-anteknya yang sengaja membuat kerusakan dalamsegala aspek kehidupan.Di sisi lain, di negara-negara Islam dikembangkan pelajaran-pelajaran umum denganmemberi porsi sedikit sekali pada pelajaran agama. Dan tidak diajarkan akhlak Islami,melainkan setelah dicampur dengan moral sekular. Bahkan, moral sekular inilah yangdiprioritaskan. Tata cara hidup bermasyarakat menurut Islam tidak diajarkan. Bahkanpada pelajaran sejarah Islam, hanya sisi gelapnya saja yang ditonjolkan. Dengandemikian, maka sempurnalah sekularisasi yang mereka lancarkan.Pada saat demikian, untuk mengatur kehidupan, umat Islam hanya mengimporperaturan dan perundang-undangan sekular dari musuh-musuh Islam yang jelas-jelastidak lagi bertumpu pada aqidah Islamiyah dan tidak mengacu pada syariat Islam. Inilahsalah satu cara musuh-musuh Islam itu membidik sasarannya dalam memerangipikiran, jiwa, hati, dan tata kehidupan kaum muslimin. Bila umat telah tergelincir danmenyimpang sedemikian jauh, maka akan berlakulah tradisi dan tata kehidupan kafir.Mereka memisahkan aqidah dari tata kehidupan mereka. Mereka tetap beraqidah Islam,tetapi tanpa pemahaman yang benar, dan sebaliknya mereka menerapkan danmempraktekkan jalan hidup kufar. Itulah pemutarbalikan dan pengaburan yang merekalancarkan. Diterapkan sedemikian rupa, sehingga generasi berikutnya mengekor sajapada yang sudah berlaku di masyarakat. Dengan demikian, mereka berhasilmenelanjangi Islam dari umatnya dan menjauhkannya dari kepribadiannya.

Kedua:

Mendorong golongan-golongan tertentu untuk mencampuradukkan Islamdengan dusta, kebatilan, den bid'ah-bid'ah yang sama sekali tidak diperkenankan olehAllah. Mereka memutarbalikkan hakikat Islam, Melecehkan Islam pada satu segi untuk menjauhkan generasi muda dari seluruh ajaran agamanya, karena jijik terhadappraktik-praktik kotor dan ganjil yang mereka kira sebagai ajaran Islam, padahal sebenarnya bukan. Diantaranya ialah bid'ah-bid'ah yang disebabkan oleh kaumpenjajah di negara-negara Islam yang menjadi jajahannya. Mereka mencari orang-orangupahan dari kalangan umat Islam untuk melaksanakan program mereka, yangsebelumnya telah mereka bekali dengan ajaran-ajaran palsu.Pemerintah kolonial menyempitkan jalan bagi pendidikan dan pengajaran agama Islam,dan pada saat yang sama mereka menyiapkan orang-orang yang tidak memahamiagama untuk mempraktikkan dan mempopulerkan bid'ah-bid'ah yang tidak dikenalpada masa generasi pertama umat Islam. Mereka campur adukkan antara ajaran yanghaq dengan ajaran-ajaran kebatinan dengan kedok tashawwuf. Kemudian pembesar-pembesar pernerintah jajahan menghadiri upacara-upacara yang terlihat sebagai acaradan upacara Islami, padahal hakikatnya hanyalah nyanyian-nyanyian yang lebih cocok diiringi musik dan tari, bukan dzikir-dzikir yang disyariatkan.Kegiatan-kegiatan semacam ini biasanya direkarn dalam. bentuk foto dan kaset,kemudian disiarkan kepada seluruh umat Islam untuk ditiru dan diikuti. Untuk kegiatanini para penguasa pernerintahan kolonial memberikan imbalan yang besar kepadaorang yang mau melaksanakannya, di samping sanjungan dan pujian. Pada akhirnya,jadilah kaurn pribumi semacam itu sebagai orang-orang upahan kaum kolonialis untuk merealisasikian maksud dan tujuan mereka.

Kegiatan-kegiatan seperti ini berakibat sangat buruk, antara lain:

1. Menjauhkan orang-orang yang sibuk mempraktikkan bid'ah-bid'ah itu darimempelajari dan mengkaji ilmu-ilmu agama dengan sebenarnya. Menjauhkan merekadari memahami tujuan agama dan hukum-hukumnya yang merupakan kemuliaan Islam.Menjauhkan mereka dari perjuangan melawan orang-orang kafir, dan menjauhkanmereka dari melaksanakan hukum-hukum Islam,2. Menghapus kekuatan religius yang potensial dari jiwa kaum muslimin, danmendorong mereka untuk melakukan ibadah mahdhah semata-mata (ini pun dicampuridengan bid'ah-bid'ah).Penghapusan kekuatan ini menimbulkan "kepuasan" melakukan ibadah kepadaTuhannya secara individual. Kemudian dia menuntut kepada Allah agar memberikankemenangan kepada kaum muslimin dalam menghadapi musuh-musuh mereka,padahal dia sendiri tidak mau mencurahkan tenaga dan kekuatannya untuk berjuang.3. Memalingkan kaum muslimin dari ajaran-ajaran Islam yang sejati untuk dialihkankepada bermacam-macam ajaran baru yang dihimpun dari berbagai kelompok ahlibid'ah. Kemudian cepat atau lambat, ajaran-ajaran inilah yang dianggap sebagai ajaranIslam yang asli dan hakiki, sedangkan ajaran Islam yang asli dinomorduakan, bahkankadang-kadang ditinggalkannya karena merasa cukup dengan rutinitas bid'ah-bid'ahtersebut.

Tiga:
Memegang kendali pimpinan keagamaan dengan memberikan gambaran yangburuk tentang Islam, dan memutarbalikkan pengertiannya serta mempraktekkannyadengan pelaksanaan yang sangat buruk. 

Mereka juga menyingkirkan semua unsur yangsekiranya dapat menangkal tipu daya dan menghambat langkah-langkah mereka

Dengan cara ini mereka memerangi Islam dengan menggunakan dua senjata yang berbahaya.

Yang pertama senjata untuk menikam kaum muslimin dengan dirinya sendiri.

Dan senjata lain yang berada di tangan mereka untuk menikam kaum muslimin secara diam-diam.

Kadang-kadang hal ini dilakukan secara terang-terangan bila situasimemungkinkan.

Kepernimpinan semacam ini dampaknya amat buruk terhadap kaum muslimin, karenamereka dapat menentukan kebijaksanaan dalam mengatur kehidupan beragama bagiumat. 

Mereka pun menjadi contoh dan panutan bagi umat, karena kendali kekuasaankehidupan beragama berada di tangan mereka.

Jika pemimpin-pemimpin semacam ini mempunyai gagasan dan perilaku yangmenyimpang, maka akan lebih menyesatkan umat. 

Dan hal inilah yang dikehendakimusuh-musuh Islam itu. Hal ini merupakan keberhasilan yang besar bagi musuh-musuhIslam. 

Dan barangsiapa menentang ide dan praktek-praktek menyimpang ini, maka diaakan diteror dan diintimidasi serta akan dikenai berbagai hukuman dan siksaan. 

Ini merupakan keberhasilan kedua bagi musuh-musuh Islam.

Selanjutnya, didiskreditkan pula orang-orang yang mengkaji ilmu-ilmu agama, agarmereka tidak loyal terhadap Islam dan berperilaku menyimpang dari Islam. 

Ini adalahkeberhasilan musuh-musuh Islam.

Selanjutnya, orang-orang yang ghirahnya lemah dan rakus terhadap kekayaan dankedudukan duniawi, memandang penyimpangan ini sebagai cara termudah untuk meraih kepemimpinan. 

Mereka menimbulkan kesamaran tentang qadha dan qadar.

Mereka menjauhkan generasi muda kita dari ajaran Islam yang sebenarnya denganmendangkalkan pengertiannya, sehingga menimbulkan kesamaran dan keragu-raguan.

Mereka menciptakan bidang pengetahuan baru dengan metodologi yang sedemikianrupa, sehingga dapat mengendalikan generasi muda kita untuk mengikuti tanpahalangan sedikit pun tidak ada yang dapat mengingatkan umat dari keburukan-keburukan pasukan syaitan.

Dengan lenyapnya da'i yang komitmen pada agamanya, maka tampaklah keberhasilanyang keempat bagi musuh-musuh Islam.

Dengan diperolehnya berbagai keberhasilan dalam segala bentuk oleh musuh-musuhIslam, maka umat Islam telah kehilangan eksistensi dan harga diri di mata manusiadalam percaturan internasional. 

Demikianlah yang selalu diperbuat musuh-musuhIslam dengan segenap kemampuannya. Maka, apakah umat Islam menyadari hal ini...?

Keempat: 
Mempersempit jalan bagi pendidikan dan pengajaran agama sertamemperkecil porsinya. 

Kemudian melancarkan intrik-intrik dan teror terhadap parajuru da'wah dan orang-orang yang menyerukan Islam. 

Mereka memerangi seluruhgerakan ishlah dengan melumpuhkan kekuatannya, baik material maupun spiritual, danmenyebarkan keraguan terhadapnya, mengkonfrontasikan satu dengan yang lainnya,dan memasukkan unsur-unsur yang mengotorinya

Sungguh, kaum muslimin telah ditimpa berbagai petaka dan cobaan dengan diberlakukannya cara-cara ini oleh musuh-musuh Islam, baik secara langsung maupunmelalui orang-orang upahannya yang masih mengaku beragama Islam.Kelima: 

Menumbuhkan dan menyebarkan keragu-raguan dalam masalah aqidah Islamiyah beserta dasar-dasarnya, peraturan-peraturan, dan peribadatannya, dengan melemahkan kepercayaan kaum muslimin atas kesempurnaan agamanya. 

Padahaljustru disitulah letak kemuliaan mereka. 

Kemudian mereka dipacu untuk mengejarketertinggalan dalam bidang ilmu pengetahuan umum dengan meninggalkan agama dan ajaran-ajarannya.

Musuh-musuh Islam ini membandingkan dunia Islam dengan dunia Eropa denganmengatakan bahwa dunia Eropa (Barat) memperoleh kemajuan setelah memisahkanpolitik, sosial dan ekonominya dari gereja. 

Karena itu, menurut mereka, bila dunia Islam ingin maju, maka kegiatan agama harus dibatasi di masjid-masjid saja. 

Agama harus dipisahkan dari urusan negara dan politik, dipisahkan dari semua peraturan,perundang-undangan, dan hukum. 

Sekaligus dilontarkan tuduhan, bahwa Islam itulemah dan tidak mampu memajukan ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan peradaban.

Sungguh ini merupakan perbandingan yang rancu. 

Mereka membandingkan Islam yangorisinal dengan agama-agama lain yang tidak asli, dan telah mengalami banyak perubahan dan percampur-adukkan, sehingga tidak layak lagi menjadi tolok ukur kehidupan dan sudah diabaikan oleh pemeluknya sendiri. 

Memang benar perkataanmereka bahwa dengan meninggalkan ajaran agama dapat dicapai kemajuan, bila yangdimaksud adalah agama selain Islam. 

Tetapi bila ditujukan kepada Islam, maka tidak dapat dibenarkan sama sekali, karena justru Islamlah yang selalu mendorong umatnyauntuk mencapai kemajuan sepanjang zaman. 

Dan Islam tidak pernah dihinggapi kebatilan, karena Allah telah memberikan jaminan akan selalu menjaga Kitab Suci-Nya sebagaimana keadaannya ketika diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam

Keenam:
Menyebarkan berbagai penghinaan terhadap ulama Islam, hukum-hukum Islam, ibadat-ibadat Islam dan tradisi-tradisinya. 

Senjata ini memiliki pengaruh yangsangat kuat terhadap orang-orang yang lemah jiwanya. 

Cacian dan penghinaan orang-orang yang benci kepada Islam, menyebabkan mereka tidak berani melaksana kan kebenaran dan kebajikan. 

Betapa banyak penyeru kebatilan yang menggunakan cacimaki dan penghinaan untuk menteror para penegak kebenaran.

Organisasi-organisasi Islam banyak disusupi oleh orang-orang semacam ini. 

Hal inidimaksudkan sebagai perang urat saraf untuk menghancurkan Islam dari dalam. 

Dalamkondisi seperti ini, maka wajiblah bagi para cendekiawan dan ulama Islam untuk melakukan gerakan melawan musuh-musuh Islam dalam perang urat saraf ini, sehingga mereka dapat menggagalkan usaha-usaha pihak musuh, membela agama Allah, serta mengembalikan kedudukannya sebagai pemimpin dunia. 

Ketika musuh-musuh Islamtelah dapat mencuci otak, hati, dan jiwa putra-putri Islam dari ajaran Islam dan akhlak Islam, maka mudahlah bagi mereka mengisinya dengan apa saja yang mereka inginkan.

Hal ini dilakukan melalui sekolah-sekolah, universitas-universitas, serta berbagai mediakomunikasi massa. Program ini sudah menjadi salah satu bentuk peperangan yangmereka lancarkan, sehingga tiada berlalu satu detik pun yang tidak mereka isi dengan kegiatan ini. 

Dan ini merupakan pelaksanaan semboyan mereka bahwa "alam tak menerima kekosongan."

Setiap saat masuklah unsur-unsur baru yang non-Islami ke dalam rumah tanggamuslim, sehingga yang sudah mapan terusik. 

Hal ini sering menimbulkan pertentanganantara suami istri. 

Demikian pula yang terjadi pada masyarakat umumnya. 

Semua ini merupakan upaya pihak Barat untuk menghapus kepribadian muslim dan menggantinya dengan unsur-unsur baru tadi. 

Dengan demikian ajaran Islam dicampur-adukkan dengan pemikiran Barat yang destruktif. 

Kemudian disudutkannya unsur-unsur ajaran Islam ke sisi yang gelap sambil menyambut datangnya unsur-unsur baru,sehingga unsur-unsur baru itu mendominasi sistem kehidupan seorang muslim.

Dengan mekanisme kerja yang terus-menerus dan berkesinambungan ini, maka sasarandan tujuan yang mereka harapkan akan dapat tercapai. 

Di antara pernyataan-pernyataan yang mengungkapkan langkah-langkah mereka itu ialah:
1. Di dalam buku "Memerangi Dunia Islam" karya orientalls Shatly, disebutkan:
"...Bila Anda ingin memerangi Islam, mematahkan kekuatannya, dan merusak aqidah yang merupakan unsur utama kekuatan dan kemuliaan kaum muslimin di dunia, makaAnda. harus mengerahkan upaya dan sasaran perjuangan Anda untuk merusak jiwa generasi muda Islam dan kaum muslimin dengan membunuh perasaan bangga merekaterhadap sejarah masa lalunya dan kitab sucinya, Al Qur'an. 

Kemudian palingkanmereka dari semua itu dengan menyebarluaskan kebudayaan, peradaban, dan sejarahAnda. 

Sebarkan paham serba boleh (ibahiyyah/permisivisme) dan perbanyak saranaperusak moral. 

Kalau kita menjumpai orang-orang yang lengah di antara mereka danhidup bersahaja, maka sudah cukuplah kiranya hal itu bagi kita, sebab untuk merusak suatu pohon kita harus memotong ranting-rantingnya lebih dahulu ...." (Wasiat Pertama,hal. 264).2. 

Dalam buku "Kehidupan Rahasia Laurens" disebutkan bahwa dalam laporannya kepada tuan-tuan tanah Britania pada bulan Januari 1916, Kolonel Laurensmengatakan:"Sasaran kita yang utama ialah memecah-belah persatuan umat Islam denganmenghancurkan dan memporak-porandakan Daulah Utsmaniyyah. 

Kita pun harus tahubagaimana memperlakukan bangsa-bangsa Arab agar mereka senantiasa hidup dengan permainan politik yang kotor dalam negara-negara kecil yang terpecah-pecah saling mendengki dan membelakangi satu sama lain, sehingga tidak mungkin bersatu. "
MENGOSOGKAN ISLAM DARI KANDUNGAN AJARANNYA YANG BENAR

1. Memasang Perangkap
Di antara cara yang ditempuh musuh-musuh Islam untuk melancarkan ghozwul-fikriterhadap kaum muslimin ialah dengan memutarbalikkan dan mengacaukan pikiran,sehingga menimbulkan pemahaman yang rusak pada sebagian umat Islam. Hal inimereka jadikan sebagai perangkap. Kemudian, secara terencana mereka kukuhkanpaham-paham destruktif ini, dan mereka sebarluaskan dengan berbagai cara dansarana. Mereka juga menghentikan setiap usaha yang hendak meluruskan danmengembalikan kesalah pahaman itu kepada pengertian Islam yang sebenarnya.Mereka memasang perangkap dengan paham-paham yang merusak, kemudianmengukuhkannya serta menghadang dan menghalangi setiap usaha perbaikan ke arahkebenaran. Semua itu bertujuan untuk meratakan jalan guna mencela dan melecehkanIslam, juga untuk membentuk opini publik bahwa itulah ajaran Islam yangsesungguhnya. Mereka pun hendak melemahkan kekuatan kaum muslimin karena asyik berkutat dalam pemahaman yang salah itu.Dengan tipu dayanya yang licik dan lihai, mereka membisikkan kepada generasi mudaIslam di negara-negara berpenduduk muslim, bahwa Islam tidak layak dijadikanpedoman hidup. Bahwa ajaran Islam itu pun sangat diragukan sebagai ajaran yangdatang dari Tuhan. Untuk menguatkan gagasannya, mereka mengambil kesaksian danacuan dengan paham-paham yang tidak benar tadi. Mereka mendakwakannya sebagaiajaran Islam yang sebenarnya, dengan alasan bahwa paham-paham itu dijadikanpegangan oleh kelompok-kelompok Islam.
2. Menyelewengkan Makna Tawakkal
Kaum penjajah memasuki negara-negara kaum muslimin untuk menguasai danmelemahkan Daulah Islamiyah, tetapi mereka mendapatkan tantangan yang keras dariumat Islam. Mereka menyerukan jihad terhadap bangsa-bangsa kafir yang dzalim,penipu, dan menjajah mereka. Maka, kaum kufar berusaha memadamkan apiperjuangan ini dengan mencekoki dan mengalihkan pemikiran umat Islam.Salah satu masalah yang hendak mereka selewengkan ialah pengertian tawakkal kepadaAllah. Mereka berusaha menyalah-artikan dan memutarbalikkan makna tawakkal untuk

dijadikan senjata guna memerangi kaum muslimin. Padahal, sebelumnya hal itu menjadisenjata kaum muslimin untuk memerangi mereka.Secara halus mereka mengatakan bahwa tawakkal kepada Allah sebagaimanadigariskan Islam dan diterapkan oleh generasi Islam pertama adalah aktifitas hati setiappribadi muslim, jadi bukan kegiatan yang bersifat lahiriah seperti menggalang kekuatanfisik dan materi, tidak pula diperlukan program-program kerja. Tawakkal kepada Allahdengan pengertian kepasrahan hati ini akan melahirkan kekuatan besar yang melebihikekuatan lahiriah, sehingga dua puluh orang mukmin yang sabar dapat mengalahkandua ratus orang musuh dengan izin Allah. Faktor penting yang menyebabkan rapuhnyakekuatan lahiriah ialah kurang teguhnya kekuatan hati, meskipun jumlah tentaranyabanyak. orang yang hanya mengandalkan kekuatan material dengan mengandakanberbagai sarana dan prasarana; hatinya akan terguncang bila melihat kekuatan musuhmelebihi kekuatannya. Dia akan takut dan gentar, sehingga kekuatannya akan lenyapdan senjatanya tidak berguna, karena tidak adanya kekuatan maknawiah dalam hati.Inilah pemikiran yang mereka lontarkan berkaitan dengan masalah tawakkal kepadaAllah dalam peperangan, demikian pula dalam aspek-aspek kehidupan yang lain.Dengan pemutarbalikkan pemahaman ini, maka musuhmusuh Islam berhasilmenghalangi kaum muslimin untuk melakukan persiapan dengan menghalang kekuatanfisik dan materi. Mereka pun tidak menggunakan sarana-sarana yang diperlukan untuk mencapai keberhasilan sesuai dengan sunnatullah dalam alam semesta. Dengandemikian, rusaklah pemahaman mereka. Mereka terbuai mimpi-mimpi indah untuk mewujudkan cita-cita, dengan mengharapkan datangnya kejadian-kejadian luar biasa diluar ketentuan hukum alam. Tipu daya musuh dengan menyalahartikan maknatawakkal ini lebih berbahaya daripada candu yang disebarkan oleh kaum imperialis dinegeri Cina. Tipu daya ini merupakan senjata yang ampuh bagi kepentingan musuhIslam.Kaum muslimin generasi pertama memahami makna tawakkal kepada Allah ini denganpemahaman yang tepat, yaitu kepasrahan yang bulat kepada Allah, disertai denganusaha dan perjuangan dengan menggunakan sarana dan prasarana sebaik mungkinuntuk mencapai tujuan, sesuai dengan sunnah Allah terhadap alam semesta. Dan dibalik usaha-usaha yang diperintahkan ini, terdapat pertolongan Ilahi. Karena itu,mereka senantiasa menggunakan segala cara upaya, serta sarana dan prasarana untuk meraih kejayaan. Dengan demikian, layaklah mereka memperoleh kemuliaan dankemenangan.Demikiarnlah didikan Rasulullah Saw kepada mereka, dalam semua aspek kehidupandan da'wah menuju jalan Allah. Demikian pula yang dipraktikkan oleh beliau dalamperjuangan, perang, mencari rezeki, ibadah, dalam masalahmasalah khusus dan umumbagi kaum muslimin. Beliau selalu mendorong kaum muslimin untuk berusaha danbekerja, berjihad, bersabar, dan berteguh hati.Demikian pula didikan Al Qur'anul Karim kepada Rasulullah dan kaum muslimin.Banyak nash Al Qur'an yang memerintahkan dan mendorong manusia untuk bekerjadan berusaha serta mempergunakan sarana yang sekiranya dapat mengantarkanmereka mencapai keberhasilan sesuai undang-undang kehidupan yang diciptakan-Nya
 
11
Sunnah Allah itu tak dapat diganti. Bila terjadi hal-hal yang luar biasa, jarang adanya,dan biasanya merupakan mu'jizat bagi Rasul atau sebagai anugerah kemuliaan dariAllah atas sekelompok kecil orang-orang yang benar-benar beriman kepada-Nya, yangtelah mengerahkan seluruh usaha dan kekuatannya yang terbatas, tanpa mengabaikankewajiban yang dibebankan Allah kepada mereka.
3. Menyelewengkan Makna Ridha kepada Qadha dan Qadar
Di samping menyalahartikan makna tawakkal kepada Allah, musuh-musuh Islam itujuga menyebarkan kesalahpahaman tentang makna ridha kepada qadha dan qadar.Tawakkal telah disalahartikan sedemikian rupa sehingga orang harus meninggalkansegala usaha untuk mencapai kemenangan dengan menggalang kekuatan dan berjihaddi jalan Allah. Dengan pengertian yang salah seperti ini mereka dapat menguasai danbertindak sewenang-wenang terhadap kaum muslimin. Untuk melestarikankesalahpahaman ini, dengan tetap menjaga penisbatan kepada Islam, kaum musliminjuga dicekoki dengan paham yang salah mengenai masalah qadha dan qadar.Dengan menerima pengertian yang tidak benar mengenai ridha kepada qadha danqadar, orang yang telah menerima makna yang salah tentang tawakkal, akan menerimabegitu saja ajaran bahwa Allah tidak memberikan pertolongan kepada mereka danmenjadikan mereka dikuasai oleh musuh. Hal itu merupakan cobaan dari Allah, bukankarena mereka tidak melaksanakan kewajiban yang dibebankan kepada mereka.Mereka harus menerima kenyataan ini sebagai takdir, mereka harus ridha dan bersabarmenerimanya. Hal ini disamakan dengan musibah-musibah berupa kemiskinan,penyakit, dan kematian yang dicobakan Allah kepada hamba-hamba-Nya untuk menilaisiapa yang sabar dan siapa yang berkeluh-kesah di antara mereka.Mereka samakan akibat-akibat yang menimpa mereka karena kesalahan mereka,dengan musibah yang dicobakan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Mereka memahamimakna qadha dan qadar tidak pada tempatnya. Sikap mereka ini sama dengan sikaporang-orang munafik yang berperang bersama-sama kaum muslimin melawan orang-orang musyrik. Bila mereka disakiti, mereka menganggap cobaan dari orang-orangmusyrik itu sebagai azab Allah. Lalu mereka sebarkan keraguan terhadap Islam, denganmengatakan bahwa derita yang menimpa kaum muslimin adalah azab Allah. Perihalmereka ini adalah sebagaimana diceritakan oleh Allah dalam Al Qur'an:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آَمَنَّا بِاللَّهِ فَإِذَا أُوذِيَ فِي اللَّهِ جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ كَعَذَابِ اللَّهِ وَلَئِنْ جَاءَ نَصْرٌ مِنْ رَبِّكَ لَيَقُولُنَّ إِنَّا كُنَّا مَعَكُمْ أَوَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِمَا فِي صُدُورِ الْعَالَمِينَ وَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْمُنَافِقِينَ

“Di antara manusia ada yang mengatakan kami beriman kepada Allah, namun apabila dia diberi cobaan di jalan Allah maka dia menganggap gangguan manusia seperti layaknya azab Allah. Dan apabila datang pertolongan dari Rabbmu, maka dia pun mengatakan, ‘Sesungguhnya kami bersama kalian’. Apakah Allah tidak mengetahui apa yang tersimpan di dalam dada manusia? Dan supaya Allah mengetahui siapakah orang-orang yang beriman dan siapakah sebenarnya orang-orang munafik itu.” (QS. al-Ankabut [29] : 10-11).
Menyerah kepada musuh dengan alasan ridha terhadap qadha dan qadar Allah, jelasdilarang oleh Islam. Hal ini tidak boleh terjadi. Kaum muslimin harus berjuang di jalanAllah. Tidaklah mereka memperoleh kehinaan atau dapat dikuasai musuh, kecualikarena dosa-dosa mereka, karena keteledoran mereka dalam menjalankan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan Allah, berupa persiapan-persiapan yang matang untuk menghadapi musuh dan menegakkan kalimah Allah.Prinsip ridha menerima qadha dan qadar Allah menurut pengertian Islam yang benar,memberikan kekuatan potensial dan dorongan yang besar kepada kaum musliminuntuk berjuang di jalan Allah. Juga memberikan ketabahan dan kegigihan untuk menanggung resiko dalam perjuangan, dengan keyakinan bahwa mereka tidak akanditimpa sesuatu kecuali yang telah ditetapkan Allah.Apabila kaum muslimin memasuki medan juang, kemudian mendapat ujian pada diridan hartanya serta anak-anaknya, mereka menerima semua itu dengan penuhkeridhaan. Mereka menyadari semua itu sebagai perwujudan qadha Allah, sehinggatidak menggerutu atau marah. Dan jika dipanggil untuk berjihad untuk kedua kali,ketiga, keempat, dan seterusnya, mereka tidak merasa enggan. Mereka yakin dengansepenuh hati, bahwa mereka tidak akan ditimpa sesuatu pun melainkan yang sudahditetapkan Allah atas diri mereka. Maka, mereka terima semua itu dengan penuhkepasrahan dan keridhaan, dengan mengharapkan pahala besar yang dijanjikan dandisediakan Allah bagi orang-orang yang benar dan sabar.Sebagai kebalikan dari aqidah yang sehat yang melahirkan ketabahan, ketangguhan, danketabahan menghadapi semua resiko, munculah aqidah yang hina yang dirancang olehorang-orang kafir, yaitu mengingkari qadha dan qadar, menganggap bahwakeberhasilan sesuatu hanya disebabkan oleh faktor materi saja berkeyakinan bahwasuatu musibah semata-mata disebabkan oleh faktor manusia.Bertolak dari aqidah yang batil ini, kita ingat kembali kisah Perang Uhud. Orang-orangmunafik berbalik haluan ketika kaum muslimin mendapat musibah disebabkan pasukanpemanah tidak mematuhi perintah Rasulullah Saw. untuk tidak meninggalkan posmereka. Padahal, sebelumnya mereka memperoleh kemenangan atas musuh mereka.orang-orang munafik itu menyebarkan perkataan, "Sekiranya kami mempunyai hak untuk campur tangan dalam urusan ini, niscaya tidak akan terbunuh orang-orang yangterbunuh dalam Perang Uhud ini." Karena pemimpin orang-orang munafik, Abdullah binUbay bin Salul, berkeras untuk tidak keluar dari Madinah menghadapi kaum musyrikindi Uhud, lalu dia bersama orang-orang munafik yang jumlahnya hampir sepertiga darijumlah seluruh pasukan meninggalkan Rasulullah, tidak jadi ikut berperang. Perkataanorang-orang munafik ini akhirnya menjadi salah satu bentuk tipu daya untuk melemahkan kekuatan Islam dalam berjuang di jalan Allah dan menghadapi parapenegak panji-panji kekafiran.Karena itu, aqidah Islam dalam hal ini masalah qadha dan qadar, harus ditempatkanpada posisinya yang benar, sehingga dapat meneguhkan hati kaum muslimin danmenolak tipu daya kaum munafik. Oleh sebab itu, Allah menurunkan ayat Al Qur'an




 
32
saw yang didukung oleh tokoh-tokoh perdamaian bangsa Arab. Dan masih banyak lagipenyesatan yang mereka lakukan, dengan menggunakan bermacam-macam istilah yangpenuh dusta dan tidak mempunyai sandaran rasional maupun faktual.Mereka katakan pula bahwa risalah Islam semata-mata tatanan sosial kemasyarakatanbangsa Arab, hasil perjuangan seorang tokoh yang jenius, dan sekarang, prinsip-prinsipnya sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman abad kedua puluh.Karenanya, perlu dilakukan pembaharuan, yaitu dengan menciptakan prinsip-prinsipyang sesuai dengan perkembangan zaman, dengan meninggalkan prinsip-prinsip lamayang dibawa Nabi Muhammad Saw dan dengan memunculkan tokoh yang menjalankantugas sebagaimana yang dipikul oleh Nabi.Untuk meninabobokan generasi muda muslim khususnya bangsa Arab yang telahtermakan tipu daya, mereka mengatakan, "Seseorang menjadi kecil di hadapanMuhammad, selama ia masih menisbatkan diri pada bangsa yang mengagumiMuhammad sebagai pemimpinnya yang utama. Atau dengan kata lain, selama diatermasuk salah seorang dari anggota kelompok atau umat yang berada di bawahpengaruh Muhammad dengan segala kekuatannya pada masa lalu, yang menjadikankehidupan tokohnya sebagai cermin bagi seluruh aspek kehidupan umatnya. Karena itu,dalam kebangkitan baru seperti sekarang, umat jangan lagi menjadikan kehidupanseorang tokoh sebagai cermin bagi keseluruhan aspek kehidupan mereka, melainkanhanya pada aspek tertentu saja dan mencermini tokoh-tokoh lain pada segi yang lain.Kalau pada zaman dahulu Muhammad merupakan segala-galanya bagi seluruh bangsaArab, maka sekarang seluruh bangsa Arab harus menjadi Muhammad."Demikianlah pernyataan mereka yang kelihatannya manis, tetapi sebenarnyamerupakan panah berbisa yang dibidikkan kepada Islam dan kaum muslimin. Merekamembangkitkan nasionalisme bangsa Arab, bukan semangat keislaman. Di balik ungkapan-ungkapan yang memukau ini, orang yang cerdas dan berpandangan tajamdapat melihat tipu daya yang besar untuk mengesampingkan risalah Allah. Risalah yangdibawa oleh Nabi Muhammad Saw bukan atas kehendak pribadinya, melainkan wahyudariNya. Bukan pula hasil karya kejeniusannya yang istimewa, melainkan diturunkandari sisi Allah, meskipun beliau memang orang yang paling jenius dan paling sempurnadibandingkan dengan manusia lain.Para penyerang itu hendak memberikan kesan bahwa Nabi Muhammad Saw adalahproduk bangsa Arab, dan agama yang dibawanya semata-mata hasil karyakejeniusannya. Di samping itu, mereka hendak membuka pintu bagi para cendekiawanbaru, agar menciptakan risalah baru untuk menggantikan Risalah Islamiyah dari Allah.Perkataan mereka ditujukan kepada risalah Nabi Muhammad Saw, padahal lebih tepat bila perkataan itu ditujukan kepada risalah nabi-nabi sebelumnya. Karena sebagianbesar isinya telah diubah, ditambah dan dikurangi. Namun anehnya, perkataan ituhanya tertuju kepada risalah Islam dan barisan kaum muslimin.Tetapi dapat dimaklumi, mengingat kalimat-kalimat itu dilontarkan oleh orang-orangsalib fanatik yang tengah melakukan kristenisasi secara terselubung. Dan tidak mengherankan pula jika mereka melakukan tipu daya sedemikian rupa terhadap Islam,karena mereka memang musuh-musuh Islam yang senantiasa memerangi Islam. Tetapi
 
33
yang sangat mengherankan ialah generasi muda Islam yang terkena perangkap lalumenjadi pasukan mereka, atau menempatkan dirinya di garis depan untuk memerangiIslam dan kaum muslimin